Teman Kecil
Karya: M. Iqbal Eka Maulana | Kelas 8A MTs Darun Najah
Di sebuah desa bernama Bayeman, tinggal seorang anak kecil bernama Ardi. Ia punya sahabat dekat bernama Alvian, yang biasa dipanggil Vian. Rumah mereka berdua letaknya bersebelahan, sehingga hampir setiap hari mereka bermain bersama.
Suatu sore, Ardi berdiri di depan rumah sambil menunggu sahabatnya.
“Yan, main yuk!” teriaknya penuh semangat.
“Ke mana, Ardi?” sahut Vian dari balik jendela.
“Ke lapangan aja, di sana kan semua teman-teman udah pada kumpul.”
“Oh, oke. Aku ganti baju dulu ya.”
Ardi duduk di pinggir jalan sambil menunggu. Tak lama, Vian keluar dengan baju santai. “Sudah, ayo berangkat!”
Mereka berdua berlari menuju lapangan desa. Sesampainya di sana, Ardi memanggil teman-temannya dengan penuh semangat.
“Teman-teman, main yuk!”
Bagus, salah satu teman mereka, langsung menjawab, “Main bola aja, gimana?”
“Setuju! Kita bikin tim dulu,” kata Ardi.
“Aku sama Ardi aja deh,” sahut Vian.
“Yaudah, aku sama Bagus,” timpal Lana.
Sorak-sorai dan tawa anak-anak memenuhi lapangan hingga matahari mulai merunduk di ufuk barat. Namun, ketika Ardi menengok jam tangannya, senyum di wajahnya sedikit terganggu.
“Ardi, pulang yuk. Udah sore,” kata Vian sambil terengah-engah.
“Iya, ayo,” jawab Ardi.
Hari itu mereka pulang dengan hati senang, menutup sore dengan kenangan manis.
---
Keesokan harinya, suasana pagi di rumah Lana terasa berbeda.
“Mah, aku mau beli raket baru, ya!” serunya dengan mata berbinar.
“Iya, tapi pakai uang siapa, Lana?” tanya ibunya.
“Pakai celenganku sendiri, Ma. Aku sudah menabung lama untuk ini.”
Wajah ibunya tersenyum bangga. “Kalau begitu boleh, Nak. Semangatmu patut dicontoh.”
Sementara itu, di rumah lain, Bagus juga bersemangat.
“Ayah, aku mau beli raket baru.”
“Buat apa, Nak?” tanya ayahnya.
“Buat main sama teman-teman di sekolah,” jawab Bagus.
“Oh, begitu. Ya boleh saja, tapi jaga raketmu baik-baik.”
Dengan raket baru di tangan, Bagus berlari pulang sambil membayangkan keseruan bermain bulu tangkis bersama teman-temannya.
Di lapangan, Bagus melihat teman-temannya sudah asyik bermain. Ia langsung bergabung dengan semangat. Waktu berlalu cepat, dan ketika jam menunjukkan pukul 14.00, mereka pun pulang ke rumah masing-masing dengan hati puas.
---
Hari Senin tiba. Mereka masuk sekolah tepat pukul 07.00 pagi.
Jam pertama, mereka belajar Bahasa Arab. Lana dan teman-temannya antusias mempelajari kosakata dan struktur kalimat. Bel istirahat berbunyi pukul 09.00, menandakan waktunya menuju kantin.
“Teman-teman, kalian pesan apa?” tanya Lana.
“Aku pesan bakso aja,” jawab Andi.
“Aku mie ayam,” kata Vian.
“Es teh satu, Bu,” Bagus menambahkan.
“Es campur, Bu,” kata Lana.
Saat pesanan tiba, senyum bahagia mereka tak bisa disembunyikan.
---
Setelah itu, pelajaran Informatika mengajarkan mereka cara membuat lego.
“Gimana sih, Lana?” tanya Bagus bingung.
“Aku juga nggak bisa…” jawab Lana sambil tertawa kecil.
“Vian, kamu ngerti?” Bagus bertanya lagi.
“Coba tanya Ardi aja,” jawab Vian.
Ardi pun mendekati Pak Sendi dan bertanya. Perlahan, mereka memahami langkah demi langkah sambil tertawa dan saling membantu.
---
Pukul 12.30, bel menandakan waktu pulang. Mereka berdoa bersama, kemudian melaksanakan sholat Dzuhur berjamaah.
“Vian, setelah ini kamu ngapain?” tanya Ardi.
“Tidur, dong,” jawab Vian sambil tersenyum.
“Ardi sendiri?”
“Mungkin mancing, nih,” jawab Ardi santai.
Akhirnya, mereka pulang ke rumah masing-masing dengan hati riang, menunggu hari-hari seru berikutnya bersama
- teman-teman. Persahabatan mereka, sederhana tapi penuh warna, menjadi kenangan yang tak akan terlupakan.
Tulisan Lainnya
Lelahku Bersama Al-Qur’an
Lelahku Bersama Al-Qur’an Karya: Divara Kamelia Penat rasanya… namun aku harus bagaimana? Tak terhitung lagi berapa deret kalam yang telah kulantunkan,
Ramadhan Mubarak
Karya: Azhara | Kelas 8F Ramadhan, bulan ampunan, mendidik jiwa menuliskan ketulusan iman. Di dalamnya hati ditempa, agar lebih sabar dan penuh harap. Aku berharap
Ramadhan Kareem
Karya: Afkarina Auliatul Faizah Bulan yang dinanti seluruh umat Muslim, hadir membawa cahaya dan harapan. Ribuan pahala menghiasi setiap detik, mengalir lembut di antara wak
Ramadhan: Madrasah Kesabaran
Karya: Ridho Taqiyuddin*) Ramadhan, bulan suci nan mulia, hadirmu bagai cahaya yang menyinari jiwa, bulan penuh berkah dan keistimewaan, tempat doa-doa berlabuh dala
Ramadhan
Karya: Dyaz Davian Eka Saputra*) Ramadhan, bulan ampunan, samudra cahaya yang menenangkan jiwa, musim kebaikan yang bersemi di hati, keberkahan yang turun selembut embun pag
Siswa-Siswi MTs Darun Najah Presentasikan Hasil Karya Projek P5
MTs Darun Najah kembali menunjukkan komitmennya dalam menguatkan karakter dan kreativitas peserta didik melalui kegiatan Presentasi Hasil Karya Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila
Mendapatkan Hatinya
Karya: Nabilatus Syifa | Kelas 8 MTs Darun Najah Sore itu, langit tampak mendung. Kanaya duduk di bangku taman sekolah sambil menunduk, memainkan jemarinya sendiri. Ada rasa aneh yang
Kepala MTs Darun Najah Hadiri Pembinaan dan Penyelesaian EDM-RKTM Tahun 2025
Kepala MTs Darun Najah Petahunan, ustadzah Yu'fiyah Ilmi, S.Pd., M.Pd., menghadiri kegiatan Pembinaan sekaligus Penyelesaian Evaluasi Diri Madrasah (EDM) dan Rencana Kerja Tahunan Madra
Sahabat Selamanya
Karya: Soffiya Adinda | Kelas 7 MTs Darun Najah Di sebuah desa kecil, hiduplah lima sahabat yang selalu bersama sejak kecil. Mereka bernama Salsa, Dian Safira, Aprilia, Ainun, da
Kelinci yang Sombong
Karya: Aliyah Aqilah | Siswi Kelas 8 MTs Darun Najah Dahulu kala, hiduplah seekor kelinci. Kelinci itu bisa berlari sangat cepat. Ia selalu bangga dengan kehebatannya. Suatu hari, ia m