Mendapatkan Hatinya
Karya: Nabilatus Syifa | Kelas 8 MTs Darun Najah
Sore itu, langit tampak mendung. Kanaya duduk di bangku taman sekolah sambil menunduk, memainkan jemarinya sendiri. Ada rasa aneh yang berkecamuk di hatinya. Sejak beberapa hari terakhir, Sagara—teman sekaligus sahabatnya sejak SMP—sering menunjukkan sikap berbeda. Tidak lagi sekadar teman biasa, tapi lebih hangat, lebih perhatian.
Sagara pun datang menghampiri, membawa sebotol air mineral. “Lo haus nggak, Nay?” tanyanya sambil tersenyum.
Kanaya hanya menggeleng, tapi jantungnya berdetak lebih cepat. Ia memberanikan diri membuka pembicaraan yang selama ini ia tahan.
“Lo yakin mau sama gue, Ra? Dulu lo pernah bilang lo nggak suka cewek kayak gue,” ucap Kanaya dengan suara pelan.
Sagara terdiam sebentar. Lalu dengan tenang ia berkata, “Dulu emang gue ngomong gitu. Tapi entah kenapa sekarang gue pengen menghapus kata-kata itu, Nay.”
Kanaya menunduk semakin dalam. “Tapi gue punya banyak kekurangan, Ra. Lo terlalu sempurna buat gue.”
Sagara langsung menggeleng. “Buat gue, lo nggak ada kurangnya sama sekali, Kanaya. Justru lo yang bikin gue sadar kalau cinta itu nggak harus sama orang yang sempurna.”
Kanaya terdiam. Hatinya masih ragu. “Tapi kata-kata lo dulu bener, Ra. Gue cuma cewek biasa yang gampang baper sama perhatian orang.”
Sagara menghela napas panjang. “Maafin kata-kata gue yang dulu, Nay. Waktu itu gue belum ngerti rasanya. Sekarang gue tahu… rasanya jadi gue. Gue serius sama lo. Apa lo masih ragu sama perasaan gue?”
Perlahan, Kanaya menatap wajahnya. “Gue… udah nggak ragu lagi, Ra. Tapi bukannya kita ini cuma temenan?”
Sagara tersenyum, kali ini lebih lebar. “Justru itu, Nay. Gue nggak mau kita cuma temenan.”
Kanaya mengernyit bingung. “Maksud lo apa, Ra?”
Dengan penuh keyakinan, Sagara menatap matanya dalam-dalam. Suaranya tegas, tapi lembut.
“Gue mau lo jadi milik gue. Will you marry me?”
Deg! Hati Kanaya seakan berhenti berdetak sejenak. Ia kaget, terharu, dan bahagia dalam waktu yang bersamaan. Air matanya pun jatuh, tapi bukan karena sedih. Dengan suara bergetar ia menjawab, “Iya… aku mau, Ra.”
Sagara tersenyum lega. Saat itu juga, semua keraguan lenyap. Mereka berdua tahu, persahabatan yang selama ini dijaga ternyata telah tumbuh menjadi cinta yang tulus.
Happy Ending ✨
Tulisan Lainnya
Saat Malam Hari Raya Idul Fitri
Karya: Muhammad Haudzil Ulum – Kelas 7B Pada suatu hari di bulan Ramadan, ada seorang anak bernama Rayyan. Ia dikenal sebagai anak yang ceria dan suka bermain bersama teman-teman
Legenda Batu Gantung
Karya: Ahmad Syauqy Rahman - Kelas 7A Pada zaman dahulu kala, di sebuah desa kecil di tepi Danau Toba, hiduplah sepasang suami istri sederhana. Mereka memiliki seorang anak perempuan b
Gunung Keramat
Karya: M. Azzam Ghazy - Kelas: 7A Akhir-akhir ini media sosial ramai membicarakan sebuah gunung yang katanya keramat. Banyak warga desa yang percaya, tetapi ada juga ya
Cinta Seangkatan
Karya: Gholib Munandar - Kelas 7A Ini adalah cerita ketika aku masih duduk di kelas 3 SD. Saat itu, aku sering mengobrol dengan teman-teman perempuan sekelasku. Namun, ada satu orang y
Menjelang Idul Adha
Karya: Muhammad Sudrajat Ibadillah - Kelas 7B Suatu sore, Bintang bermain bersama teman-temannya. Mereka berjalan-jalan sambil melihat hewan-hewan yang akan dikurbankan, seperti sapi d
MTs Darun Najah Terbitkan Buku Kedua “Jejak Pena Anugerah”
Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh MTs Darun Najah Petahunan Sumbersuko Lumajang dalam bidang literasi. Setelah sebelumnya menerbitkan karya antologi puisi, kini kembali hadi
MTs Darun Najah Terbitkan Buku Antologi Puisi “Sajak Rindu Santri” Karya Siswa-siswi
MTs Darun Najah kembali menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan budaya literasi dengan menerbitkan sebuah buku antologi puisi berjudul Sajak Rindu Santri. Buku ini merupakan
Ibu, Buku Kehidupanku
Karya: Maridabul Khumairoh – Kelas 8D Ibu, engkau adalah buku segala ilmu, tempatku bertanya dan tempat semua masalahku bermuara. Engkau selalu tahu bagaiman
Lelahku Bersama Al-Qur’an
Lelahku Bersama Al-Qur’an Karya: Divara Kamelia Penat rasanya… namun aku harus bagaimana? Tak terhitung lagi berapa deret kalam yang telah kulantunkan,
Ramadhan Mubarak
Karya: Azhara | Kelas 8F Ramadhan, bulan ampunan, mendidik jiwa menuliskan ketulusan iman. Di dalamnya hati ditempa, agar lebih sabar dan penuh harap. Aku berharap