Menjelang Idul Adha
Karya: Muhammad Sudrajat Ibadillah - Kelas 7B
Suatu sore, Bintang bermain bersama teman-temannya. Mereka berjalan-jalan sambil melihat hewan-hewan yang akan dikurbankan, seperti sapi dan kambing. Bintang tampak senang, tetapi juga penasaran melihat banyaknya hewan yang dikumpulkan di satu tempat.
Menjelang malam, Bintang dan teman-temannya pulang. Ia segera mandi dan bersiap untuk makan malam. Setelah itu, Bintang membantu ibunya menyiapkan keperluan untuk esok hari.
Malam pun tiba. Suara takbir mulai berkumandang dari masjid dan musala. Bintang bersama teman-temannya ikut berkeliling kampung sambil bertakbir. Suasana terasa meriah dan penuh kebahagiaan. Setelah lelah berkeliling, Bintang pun pulang dan beristirahat agar bisa bangun pagi.
Keesokan harinya, Bintang bangun lebih awal. Ia segera mandi dan bersiap-siap untuk melaksanakan salat Idul Adha. Bersama ibu dan ayahnya, Bintang berangkat ke masjid. Sesampainya di sana, ia mengambil wudu, lalu melaksanakan salat berjamaah dengan khusyuk.
Setelah salat selesai, Bintang melihat proses penyembelihan hewan kurban. Ia memandang hewan-hewan itu dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi ia mengerti bahwa kurban adalah perintah agama, tetapi di sisi lain ia merasa kasihan. Ia membayangkan bagaimana hewan-hewan itu harus disembelih. Air matanya hampir menetes melihat pemandangan tersebut.
Tak lama kemudian, hewan-hewan kurban disembelih dengan menyebut nama Allah. Darah mengalir, dan dagingnya kemudian dipotong-potong untuk dibagikan kepada warga sekitar.
Bintang dan keluarganya juga mendapatkan bagian daging kurban. Ibunya memasak daging tersebut untuk dimakan bersama. Namun, Bintang masih merasa ragu untuk memakannya.
Ibunya tersenyum lembut, lalu bertanya,
“Kenapa kamu tidak mau makan, Bintang?”
Bintang menunduk dan menjawab pelan,
“Aku kasihan dengan hewan itu, Bu…”
Ayahnya pun berkata,
“Tidak apa-apa merasa kasihan, Nak. Tapi hewan itu disembelih untuk ibadah kepada Allah dan untuk dibagikan kepada banyak orang. Dari kurban, kita belajar berbagi dan bersyukur.”
Ibunya menambahkan,
“Iya, Nak. Coba sedikit saja dulu.”
Bintang pun mengangguk ragu. Ia mencoba memakan sedikit daging yang dimasak ibunya. Ternyata rasanya enak. Perlahan, keraguannya hilang, dan ia makan bersama keluarganya dengan lahap.
Setelah makan, Bintang bermain lagi dengan teman-temannya. Ia bercerita tentang pengalamannya.
“Tadi aku sempat tidak mau makan daging kurban,” kata Bintang.
Temannya menjawab,
“Sama! Aku juga awalnya tidak mau. Tapi setelah mencoba, ternyata enak sekali!”
Mereka pun tertawa bersama.
Menjelang siang, Bintang pulang ke rumah. Ia membersihkan diri dan mengambil wudu untuk melaksanakan salat Zuhur berjamaah di masjid. Setelah itu, ia beristirahat.
Sore harinya, Bintang kembali ke masjid untuk salat Asar berjamaah. Sepulangnya, ia makan bersama ibu dan ayahnya. Kini, ia sudah tidak ragu lagi menikmati daging kurban.
Menjelang malam, Bintang pergi ke masjid untuk salat Magrib berjamaah bersama ayah dan ibunya. Setelah salat, ia mengikuti kegiatan mengaji Al-Qur’an hingga selesai.
Sesampainya di rumah, mereka makan malam bersama. Setelah itu, Bintang mencuci tangan dan kaki, lalu bersiap untuk tidur.
Sebelum tidur, Bintang berdoa bersama keluarganya. Hatinya terasa tenang dan bahagia.
Hari itu menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi Bintang. Ia belajar bahwa Idul Adha bukan hanya tentang kurban, tetapi juga tentang keikhlasan, berbagi, dan rasa syukur.
Akhirnya, Bintang pun tertidur dengan nyenyak.
Tamat
Tulisan Lainnya
Saat Malam Hari Raya Idul Fitri
Karya: Muhammad Haudzil Ulum – Kelas 7B Pada suatu hari di bulan Ramadan, ada seorang anak bernama Rayyan. Ia dikenal sebagai anak yang ceria dan suka bermain bersama teman-teman
Legenda Batu Gantung
Karya: Ahmad Syauqy Rahman - Kelas 7A Pada zaman dahulu kala, di sebuah desa kecil di tepi Danau Toba, hiduplah sepasang suami istri sederhana. Mereka memiliki seorang anak perempuan b
Gunung Keramat
Karya: M. Azzam Ghazy - Kelas: 7A Akhir-akhir ini media sosial ramai membicarakan sebuah gunung yang katanya keramat. Banyak warga desa yang percaya, tetapi ada juga ya
Cinta Seangkatan
Karya: Gholib Munandar - Kelas 7A Ini adalah cerita ketika aku masih duduk di kelas 3 SD. Saat itu, aku sering mengobrol dengan teman-teman perempuan sekelasku. Namun, ada satu orang y
MTs Darun Najah Terbitkan Buku Kedua “Jejak Pena Anugerah”
Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh MTs Darun Najah Petahunan Sumbersuko Lumajang dalam bidang literasi. Setelah sebelumnya menerbitkan karya antologi puisi, kini kembali hadi
MTs Darun Najah Terbitkan Buku Antologi Puisi “Sajak Rindu Santri” Karya Siswa-siswi
MTs Darun Najah kembali menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan budaya literasi dengan menerbitkan sebuah buku antologi puisi berjudul Sajak Rindu Santri. Buku ini merupakan
Ibu, Buku Kehidupanku
Karya: Maridabul Khumairoh – Kelas 8D Ibu, engkau adalah buku segala ilmu, tempatku bertanya dan tempat semua masalahku bermuara. Engkau selalu tahu bagaiman
Lelahku Bersama Al-Qur’an
Lelahku Bersama Al-Qur’an Karya: Divara Kamelia Penat rasanya… namun aku harus bagaimana? Tak terhitung lagi berapa deret kalam yang telah kulantunkan,
Ramadhan Mubarak
Karya: Azhara | Kelas 8F Ramadhan, bulan ampunan, mendidik jiwa menuliskan ketulusan iman. Di dalamnya hati ditempa, agar lebih sabar dan penuh harap. Aku berharap
Ramadhan Kareem
Karya: Afkarina Auliatul Faizah Bulan yang dinanti seluruh umat Muslim, hadir membawa cahaya dan harapan. Ribuan pahala menghiasi setiap detik, mengalir lembut di antara wak