• MTs. Darun Najah
  • Religius, Terampil, Berprestasi, dan Berakhlaqul Karimah.

Legenda Batu Gantung

Karya: Ahmad Syauqy Rahman - Kelas 7A

Pada zaman dahulu kala, di sebuah desa kecil di tepi Danau Toba, hiduplah sepasang suami istri sederhana. Mereka memiliki seorang anak perempuan bernama Seruni. Seruni tumbuh menjadi gadis yang cantik dan baik hati. Karena kecantikannya, ia dikenal sebagai bunga desa. Namun, bukan hanya parasnya yang membuat orang-orang kagum, melainkan juga sikapnya yang sopan dan suka menolong.

Sejak kecil, Seruni sudah terbiasa membantu kedua orang tuanya bekerja di ladang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia tidak pernah mengeluh meskipun harus bekerja k.eras.

Suatu hari, saat Seruni sedang bekerja di ladang, datanglah seorang pemuda tampan bernama Sidori. Sidori adalah kekasih Seruni.

“Beristirahatlah sebentar, Seruni. Aku membawakan bekal untukmu,” kata Sidori sambil tersenyum.

“Oh, Abang Sidori. Terima kasih,” jawab Seruni dengan lembut.

“Boleh aku menemanimu di sini?” tanya Sidori.

“Tentu saja, Bang,” jawab Seruni.

Mereka pun duduk bersama di bawah pohon rindang sambil menikmati bekal yang dibawa Sidori. Setelah beberapa saat, Sidori terlihat serius seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Sebenarnya, ada hal penting yang ingin Abang bicarakan denganmu, Seruni,” ucap Sidori pelan.

“Apa itu, Bang?” tanya Seruni penasaran.

“Seperti yang sudah kamu tahu, kita sudah lama saling mengenal. Abang memiliki satu tujuan, yaitu ingin menikahimu,” kata Sidori.

Seruni tersipu malu mendengar perkataan itu.

“Untuk mewujudkan keinginan itu, Abang ingin pergi merantau mencari pekerjaan di kota,” lanjut Sidori.

Seruni terkejut mendengarnya. “Abang ingin meninggalkan desa dan bekerja jauh dari sini?” tanyanya sedih.

“Benar, Seruni. Kalau Abang tetap tinggal di desa ini, entah sampai kapan Abang bisa mengumpulkan biaya untuk pernikahan kita,” jawab Sidori dengan sungguh-sungguh.

“Kalau begitu, aku mengizinkan Abang pergi merantau. Apa pun yang Abang lakukan pasti demi masa depan kita berdua,” kata Seruni.

“Terima kasih, Seruni. Abang berjanji akan berusaha sekuat tenaga,” jawab Sidori.

“Aku percaya pada Abang. Tapi berjanjilah, Abang akan segera kembali,” ucap Seruni dengan mata berkaca-kaca.

“Aku berjanji akan kembali dan membawa uang yang cukup untuk pernikahan kita. Danau Toba serta batu-batu di tempat ini akan menjadi saksi janji kita,” kata Sidori sambil memberikan sebuah gelang kepada Seruni.

Waktu terus berlalu. Tidak terasa hampir satu tahun Sidori pergi merantau. Selama itu, Seruni menjalani hari-harinya seperti biasa sambil setia menunggu kepulangan kekasihnya.

Selain bekerja di ladang, Seruni juga membantu keluarganya mencari ikan di Danau Toba. Namun, hasil kerja keras mereka tidak sepenuhnya digunakan untuk kebutuhan keluarga. Ayah Seruni memiliki kebiasaan buruk berjudi dan sering menghamburkan uang untuk bersenang-senang.

Suatu hari, kebiasaan buruk itu membuat ayah Seruni terlilit banyak utang. Ia tidak sanggup lagi membayar semua pinjamannya.

“Kau kalah lagi? Utangmu yang sebelumnya saja belum lunas. Jangan berharap bisa berutang lagi!” kata salah seorang temannya dengan kesal.

“Tolonglah, kali ini saja. Aku yakin bisa menang dan melunasi semua utangku,” jawab ayah Seruni memohon.

“Tidak bisa! Utangmu sudah terlalu banyak. Lunasi semuanya sekarang juga. Orang seperti kamu sudah tidak bisa dipercaya lagi,” bentak temannya.

“Jangan sekarang, aku belum punya uang sebanyak itu,” kata ayah Seruni dengan wajah cemas.

“Apa? Jadi kau tidak sanggup membayar utangmu?” bentak temannya lagi.

“Iya, aku benar-benar sudah tidak punya uang lagi. Berilah aku waktu. Kali ini aku akan menyuruh istri dan anakku bekerja lebih keras,” jawab ayah Seruni memohon.

“Oh, iya! Aku baru ingat. Kau punya putri yang cantik, bukan?” kata lelaki itu sambil tersenyum licik. “Kalau begitu, nikahkan saja putrimu dengan anakku.”

“Apa? Tunggu dulu!” kata ayah Seruni terkejut.

“Tidak ada yang perlu ditunggu. Jika kau setuju, semua utangmu akan kuanggap lunas,” ujar lelaki itu.

“Tapi aku harus membicarakan hal ini dengan istriku. Lagi pula, Seruni sepertinya sudah memiliki calon sendiri,” jawab ayah Seruni ragu-ragu.

“Aku tidak peduli! Nikahkan putrimu atau lunasi semua utangmu sekarang juga. Kalau tidak, kau tahu akibatnya!” ancam lelaki itu sambil tertawa keras.

Ayah Seruni hanya terdiam. Ia bingung menghadapi nasibnya sendiri. Sebenarnya, ia tidak tega mengorbankan putrinya. Namun, karena terlilit utang dan terus mendapat ancaman, ia merasa tidak memiliki pilihan lain.

“Tentu aku tidak rela jika anak kita harus menikah dengan anak orang itu,” kata ibu Seruni dengan sedih.

“Aku juga bingung. Sudah tidak ada cara lain sekarang. Apa kau punya jalan keluar selain mengizinkan Seruni menikah dengan anaknya?” tanya sang ayah putus asa.

“Aku juga tidak tahu. Ibu benar-benar bingung,” jawab ibunya pelan.

“Kalau begitu, kita harus membujuk Seruni. Menikah dengan anak orang itu mungkin akan membuat hidupnya lebih baik,” kata ayah Seruni.

“Tapi bagaimana kalau Seruni menolak perjodohan ini?” tanya sang ibu khawatir.

“Seruni harus menerimanya. Kalau tidak, kita semua bisa dalam bahaya. Kau tahu sendiri seperti apa orang-orang itu,” jawab sang ayah.

“Lebih baik kita pikirkan dulu dengan tenang. Siapa tahu masih ada jalan lain agar Seruni tetap bisa menikah dengan lelaki pilihannya,” kata sang ibu mencoba menenangkan.

Di balik dinding rumah, Seruni menangis mendengar percakapan kedua orang tuanya. Hatinya terasa hancur. Dalam tangisnya, ia teringat janji yang pernah dibuat bersama Sidori di tepi Danau Toba.

Keesokan harinya, Seruni pergi ke ladang ditemani Si Toki, anjing kesayangannya. Namun, setibanya di sana, ia hanya duduk termenung. Tidak seperti biasanya, ia sama sekali tidak bekerja. Wajahnya terlihat muram dan pandangannya kosong.

Sesekali Si Toki menggonggong pelan, seolah ingin menghiburnya. Seruni hanya menoleh sebentar, lalu kembali larut dalam lamunannya.

Kesedihan yang ia rasakan semakin berat. Seruni merasa tidak memiliki siapa pun untuk berbagi cerita selain Si Toki yang selalu setia menemaninya.

“Toki… aku bingung harus bagaimana,” ucap Seruni lirih sambil memeluk anjing kesayangannya.

Air mata kembali jatuh membasahi pipinya. Ia sangat mencintai Sidori dan ingin menepati janji mereka. Namun, di sisi lain, ia juga tidak ingin keluarganya mendapat masalah karena utang sang ayah.

Hari demi hari, Seruni terus hidup dalam kesedihan. Hingga akhirnya, rasa putus asa membuat pikirannya menjadi gelap. Dalam tangis dan kesedihan yang mendalam, Seruni berlari menuju tebing di sekitar Danau Toba.

Si Toki menggonggong keras sambil mengejar Seruni, seolah ingin menghentikannya. Namun, Seruni terus berlari tanpa menghiraukannya.

“Sidori… maafkan aku. Aku tidak bisa menepati janji kita,” tangis Seruni.

Sesampainya di tepi tebing, Seruni berdoa sambil menangis. Tiba-tiba, tanah di dekat tebing retak dan perlahan membuka. Seruni pun jatuh ke dalamnya.

Si Toki menggonggong keras di pinggir tebing. Tidak lama kemudian, tanah itu kembali menutup dan membentuk batu besar yang menggantung di tebing.

Masyarakat sekitar percaya bahwa batu itu adalah jelmaan Seruni. Sejak saat itu, tempat tersebut dikenal dengan nama Batu Gantung, yang menjadi salah satu legenda terkenal dari Danau Toba.

 

Tulisan Lainnya
Saat Malam Hari Raya Idul Fitri

Karya: Muhammad Haudzil Ulum – Kelas 7B Pada suatu hari di bulan Ramadan, ada seorang anak bernama Rayyan. Ia dikenal sebagai anak yang ceria dan suka bermain bersama teman-teman

31/05/2026 09:12 - Oleh Administrator - Dilihat 17 kali
Gunung Keramat

  Karya: M. Azzam Ghazy - Kelas: 7A   Akhir-akhir ini media sosial ramai membicarakan sebuah gunung yang katanya keramat. Banyak warga desa yang percaya, tetapi ada juga ya

21/05/2026 14:47 - Oleh Administrator - Dilihat 71 kali
Cinta Seangkatan

Karya: Gholib Munandar - Kelas 7A Ini adalah cerita ketika aku masih duduk di kelas 3 SD. Saat itu, aku sering mengobrol dengan teman-teman perempuan sekelasku. Namun, ada satu orang y

19/05/2026 05:40 - Oleh Administrator - Dilihat 36 kali
Menjelang Idul Adha

Karya: Muhammad Sudrajat Ibadillah - Kelas 7B Suatu sore, Bintang bermain bersama teman-temannya. Mereka berjalan-jalan sambil melihat hewan-hewan yang akan dikurbankan, seperti sapi d

12/05/2026 10:45 - Oleh Administrator - Dilihat 162 kali
MTs Darun Najah Terbitkan Buku Kedua “Jejak Pena Anugerah”

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh MTs Darun Najah Petahunan Sumbersuko Lumajang dalam bidang literasi. Setelah sebelumnya menerbitkan karya antologi puisi, kini kembali hadi

25/04/2026 18:17 - Oleh Administrator - Dilihat 88 kali
MTs Darun Najah Terbitkan Buku Antologi Puisi “Sajak Rindu Santri” Karya Siswa-siswi

  MTs Darun Najah kembali menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan budaya literasi dengan menerbitkan sebuah buku antologi puisi berjudul Sajak Rindu Santri. Buku ini merupakan

22/04/2026 13:40 - Oleh Administrator - Dilihat 123 kali
Ibu, Buku Kehidupanku

  Karya: Maridabul Khumairoh – Kelas 8D   Ibu, engkau adalah buku segala ilmu, tempatku bertanya dan tempat semua masalahku bermuara. Engkau selalu tahu bagaiman

20/04/2026 10:41 - Oleh Administrator - Dilihat 45 kali
Lelahku Bersama Al-Qur’an

Lelahku Bersama Al-Qur’an   Karya: Divara Kamelia   Penat rasanya… namun aku harus bagaimana? Tak terhitung lagi berapa deret kalam yang telah kulantunkan,

14/03/2026 20:08 - Oleh Administrator - Dilihat 58 kali
Ramadhan Mubarak

Karya: Azhara | Kelas 8F   Ramadhan, bulan ampunan, mendidik jiwa menuliskan ketulusan iman. Di dalamnya hati ditempa, agar lebih sabar dan penuh harap.   Aku berharap

01/03/2026 08:23 - Oleh Administrator - Dilihat 52 kali
Ramadhan Kareem

Karya: Afkarina Auliatul Faizah   Bulan yang dinanti seluruh umat Muslim, hadir membawa cahaya dan harapan. Ribuan pahala menghiasi setiap detik, mengalir lembut di antara wak

25/02/2026 10:55 - Oleh Administrator - Dilihat 66 kali