• MTs. Darun Najah
  • Religius, Terampil, Berprestasi, dan Berakhlaqul Karimah.

Gunung Keramat

 

Karya: M. Azzam Ghazy - Kelas: 7A

 

Akhir-akhir ini media sosial ramai membicarakan sebuah gunung yang katanya keramat. Banyak warga desa yang percaya, tetapi ada juga yang menganggap itu hanya cerita biasa.

Saat jam istirahat di sekolah, Fiko menghampiri Vendi yang sedang duduk di depan kelas.

 

“Eh, kamu tahu nggak berita yang lagi ramai sekarang?” tanya Fiko dengan wajah serius.

 

“Berita apa?” jawab Vendi santai.

 

“Katanya ada gunung keramat di desa kita.”

 

Vendi langsung tertawa kecil.

“Ah, kamu kurang tidur, ya? Masa di desa kita ada gunung keramat?”

 

“Serius! Coba lihat media sosial,” kata Fiko sambil menunjukkan layar ponselnya.

 

Vendi pun membaca berita itu dengan teliti. Perlahan wajahnya berubah kaget.

 

“Lho… ternyata benar!”

 

“Iya, kan?” jawab Fiko bangga.

 

“Padahal dulu kita sering main di sana,” kata Vendi pelan.

 

Fiko mengangguk.

“Di desa kita memang banyak orang pintar dan dukun. Katanya kalau ada ritual, sesajennya ditaruh di gunung itu.”

 

Vendi terdiam sejenak. Ia jadi ingat sesuatu.

 

“Oh iya… minggu kemarin aku juga sempat dibawa ke sana waktu sakit,” katanya dengan nada takut.

 

“Makanya orang-orang menyebutnya Gunung Kramat,” jawab Fiko.

 

Suasana tiba-tiba menjadi hening. Angin siang terasa lebih dingin dari biasanya.

 

Lalu Fiko berkata pelan,

“Gimana kalau hari Minggu nanti kita ke sana lagi? Buat membuktikan cerita itu.”

 

Vendi ragu-ragu, tetapi rasa penasarannya lebih besar daripada rasa takutnya.

 

“Ya sudah… aku ikut,” jawabnya akhirnya.

 

Beberapa menit kemudian bel pulang sekolah berbunyi.

 

“TETTT… TETTT…”

 

Mereka pun segera pulang dengan pikiran yang masih dipenuhi cerita tentang Gunung Kramat.

 

---

 

Keesokan Harinya

 

Berita tentang Gunung Kramat semakin menyebar. Anak-anak, remaja, ibu-ibu, bahkan bapak-bapak terus membicarakannya. Kabar itu sampai terdengar hingga desa sebelah.

 

Hari Minggu pun tiba.

 

Pagi-pagi sekali, Vendi meminta izin kepada orang tuanya untuk pergi bersama Fiko. Awalnya orang tuanya melarang karena takut terjadi sesuatu.

 

“Jangan pergi ke tempat aneh-aneh, Vend,” kata ibunya khawatir.

 

“Tapi cuma sebentar, Bu. Aku penasaran,” jawab Vendi sambil membujuk.

 

Setelah cukup lama meyakinkan orang tuanya, akhirnya Vendi diizinkan pergi.

 

Fiko juga mengalami hal yang sama. Setelah membujuk ayah dan ibunya, ia akhirnya mendapat izin.

 

Mereka berdua lalu bersiap-siap. Setelah mandi dan makan pagi, mereka membawa ponsel serta senter kecil untuk berjaga-jaga.

 

Jam menunjukkan pukul 09.12.

 

Dengan langkah pelan dan hati yang berdebar, Fiko dan Vendi mulai berjalan menuju Gunung Kramat…

 

Suatu hari, Vendi berkata kepada Fiko,

 

“Bolaah… aku mau beli bola dulu ya.”

 

“Oke,” jawab Fiko.

 

Mereka pun pergi ke sebuah warung dekat pos ronda. Namun entah kenapa, Fiko merasa seperti ada yang mengikuti mereka sejak tadi.

 

Kriikk…

 

Setelah sampai di pos ronda, Vendi membeli bola yang ia inginkan.

 

“Yaudah, sekarang kita berangkat,” kata Vendi.

 

Tak lama kemudian mereka mulai berjalan menuju gunung yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal mereka. Di tengah perjalanan, tiba-tiba ada seorang anak kecil muncul dari arah semak-semak.

 

“Heh… siapa itu?” kata Fiko kaget.

 

“Mas… kalian mau ke mana?” tanya anak kecil itu.

 

“Kita mau ke gunung itu,” jawab Vendi sambil menunjuk ke arah depan.

 

“Aku ikut ya?” pinta bocah itu.

 

“Emangnya kamu dari mana?” tanya Fiko curiga.

 

“Aku dari kampung sebelah… nama aku Naufal,” jawab bocah itu.

 

“Yaudah ikut aja, tapi jangan takut,” kata Vendi.

 

“Iya,” jawab Naufal pelan.

 

Akhirnya mereka bertiga melanjutkan perjalanan hingga sampai di kaki gunung.

 

Namun tiba-tiba Fiko berhenti.

 

“Eh… tunggu dulu. Itu siapa ya?” bisiknya dengan wajah tegang.

 

Di kejauhan terlihat seseorang berdiri diam di antara pepohonan. Karena penasaran, mereka bertiga perlahan mendekati sosok misterius itu.

 

Daun-daun kering berguguran di sekitar mereka.

 

Srekkk… srekkk…

 

Suara sandal Vendi menginjak daun membuat suasana makin menyeramkan.

 

Tiba-tiba sosok misterius itu menoleh ke arah mereka!

 

“LARI!!” teriak Fiko.

 

Mereka bertiga langsung berlari tanpa arah hingga hari mulai sore.

 

“Waduh… gimana ini? Jalan keluarnya di mana?” kata Fiko sambil panik.

 

“Aduh… kita nyasar kayaknya,” ucap Vendi.

 

Mereka terus mencari jalan keluar. Di tengah perjalanan, Vendi melihat sebuah gubuk tua.

 

“Eh… kita istirahat di sana dulu ya,” kata Vendi.

 

“Gak ah… serem!” jawab Naufal dan Fiko bersamaan dengan suara gemetar.

 

“Lah… bentar lagi magrib loh,” balas Vendi.

 

Akhirnya mereka setuju walaupun terpaksa.

 

Tak lama kemudian azan magrib berkumandang. Suasana di dalam gubuk terasa sangat mencekam. Bau dupa yang menyengat bercampur dengan bau busuk memenuhi ruangan.

 

Fiko mulai merasa tidak nyaman.

 

Lalu…

 

Tiba-tiba Fiko melihat sesosok bayangan putih melayang sangat cepat di depan pintu gubuk!

 

“AAAAAAAA!!” teriak mereka bertiga bersamaan.

 

“Eh… apa itu weyy?!” kata Fiko dengan nada kaget.

 

“Memangnya apa?” tanya Naufal bingung.

 

“Tadi aku lihat bayangan putih melaju sangat cepat!” jawab Fiko dengan suara gemetar.

 

“Ah… paling cuma perasaanmu aja,” kata Naufal santai.

 

“Apa iya ya…” balas Fiko, meski masih ketakutan.

 

Beberapa menit kemudian, Naufal tiba-tiba berjalan sendiri keluar gubuk tanpa mengatakan apa-apa.

 

“Lah… itu kenapa Naufal?” kata Vendi kebingungan.

 

Akhirnya Fiko memanggilnya.

 

“Woy Fal! Mau ke mana kamu?!”

 

Namun…

 

Tiba-tiba Naufal menghilang begitu saja di tengah gelapnya hutan!

 

Mereka berdua langsung panik.

 

“Lah… bola yang tadi di sini mana?” kata Fiko kaget.

 

“Loh iya ya… tadi kan masih ada,” jawab Vendi bingung.

 

Suasana semakin mencekam.

 

“Aku jadi takut… kayaknya memang benar kata orang-orang kalau gunung ini angker,” ucap Vendi pelan.

 

“Iya… harusnya tadi kita denger omongan orang tua,” kata Fiko menyesal.

 

Beberapa jam kemudian, akhirnya mereka ditemukan oleh seorang warga yang memang sedang berjaga di sekitar gunung.

 

“Heh! Kalian ngapain malam-malam di sini? Udah tahu gunung ini keramat malah main ke sini!” kata warga itu.

 

“Ceritanya panjang pak… awalnya kita cuma mau main,” jawab Vendi.

 

“Awalnya kita bertiga pak,” tambah Fiko.

 

“Lah… terus kok tinggal berdua?” tanya warga itu heran.

 

“Tadi Naufal tiba-tiba menghilang pak…”

 

Belum selesai Fiko berbicara, warga itu langsung memotong.

 

“APA?! Naufal kampung sebelah itu?!” katanya dengan wajah pucat.

 

“Iya pak… memang kenapa?” tanya Fiko bingung.

 

Warga itu terdiam beberapa saat.

 

“Anak itu… sudah lama meninggal secara tragis.”

 

“Hah?!”

 

Fiko dan Vendi langsung saling menatap ketakutan.

 

“Dulu dia ditemukan meninggal di area gunung ini. Katanya habis dibunuh… tapi sampai sekarang pelakunya nggak pernah ketemu,” jelas warga itu.

 

“L-lah… terus tadi yang ikut sama kita siapa pak?” tanya Vendi dengan suara gemetar.

 

“Sudahlah… ayo ikut saya pulang dulu,” jawab warga itu pelan.

 

Akhirnya mereka berdua ikut pulang dengan selamat ke rumah warga tersebut.

 

Sesampainya di rumah, warga itu menunjukkan sebuah foto lama.

 

“Nih… ini foto Naufal waktu masih hidup.”

 

Fiko dan Vendi langsung membelalak.

 

“Itu dia pak! Persis banget sama anak yang tadi ikut sama kita!” kata Vendi ketakutan.

 

“Kasihan anak itu… meninggalnya nggak wajar,” ucap warga itu.

 

“Pak… boleh nggak kami tidur di sini dulu? Kami takut pulang malam-malam,” pinta Fiko kelelahan.

 

“Iya sudah, kalian istirahat saja dulu,” jawab warga itu.

 

Akhirnya mereka pun tertidur.

 

Keesokan Harinya

 

Keesokan harinya, warga itu membangunkan kedua anak tersebut.

 

“Le… bangun le…” ucap warga itu pelan.

 

Akhirnya Vendi dan Fiko pun terbangun dari tidurnya.

 

Beberapa menit kemudian, warga itu mulai bertanya.

 

“Nama kalian siapa?”

 

“Kalau saya Vendi, pak,” jawab Vendi.

 

“Kalau kulo namine Fiko,” jawab Fiko.

 

“Ooo… sana mandi dulu. Habis mandi langsung makan,” kata warga itu ramah.

 

Akhirnya mereka mengikuti perkataan warga tersebut.

 

Beberapa menit kemudian…

 

“Kalian mau ikut saya ke gunung itu lagi nggak?” tanya warga itu tiba-tiba.

 

“Ngapain lagi pak? Saya masih trauma sama kejadian kemarin,” jawab Vendi.

 

“Mau lihat para dukun ritual. Biasanya jam segini mereka mulai datang,” kata warga itu.

 

Fiko langsung membisik kepada Vendi.

 

“Kayaknya serem ikut yuk…”

 

“Iya deh pak… kita ikut,” jawab Vendi dengan nada terpaksa.

 

“Oke… tapi ada syaratnya,” kata warga itu.

 

“Syarat apa pak?” tanya Fiko.

 

“Nanti kalau sudah sampai di sana jangan bicara keras-keras, dan jangan lupa baca bismillah di dalam hati.”

 

“Iya pak,” jawab mereka bersamaan.

 

Akhirnya mereka bertiga kembali berangkat menuju gunung itu.

 

Sesampainya di sana, warga itu kembali mengingatkan mereka.

 

“Ayo… baca bismillah dalam hati.”

 

Mereka pun mengikuti ucapan warga tersebut.

 

Baru berjalan beberapa langkah, mereka mulai melihat banyak orang sedang melakukan ritual aneh di sekitar gunung.

 

Karena bersembunyi di balik batu besar, mereka tidak terlihat.

 

Dari kejauhan, tampak beberapa dukun sedang melakukan ritual menyeramkan.

 

Ada yang berbicara sendiri seperti sedang berbicara dengan makhluk gaib…

 

Ada juga yang menaburkan bunga sambil membaca mantra…

 

Bahkan ada yang memakan sesuatu yang membuat Vendi dan Fiko merasa mual melihatnya.

 

“Hii… serem banget,” bisik Fiko pelan.

 

Beberapa menit kemudian, para dukun itu mulai pergi meninggalkan tempat tersebut.

 

“Nah… sekarang kita pulang,” kata warga itu.

 

Namun mereka pulang melewati jalur yang berbeda.

 

Di tengah perjalanan, mereka sempat berhenti di pos ronda dekat kampung mereka.

 

“Rumah kalian di mana?” tanya warga itu.

 

“Itu rumah saya pak… nggak jauh dari sini,” jawab Vendi sambil menunjuk rumahnya.

 

“Kalau rumahku di sebelah sana,” tambah Fiko.

 

“Ya sudah, sana pulang. Nanti orang tua kalian khawatir,” kata warga itu.

 

Akhirnya mereka pun pulang ke rumah masing-masing.

 

Dan benar saja…

 

Vendi dimarahi orang tuanya karena pulang terlambat.

 

Begitu juga dengan Fiko yang kena marah habis-habisan.

 

“Salah sendiri main sampai nggak pulang!” kata salah satu tetangga Vendi.

 

Setelah kejadia

n itu, Vendi dan Fiko menjadi trauma untuk pergi ke gunung tersebut lagi.

 

Namun lama-kelamaan rasa takut mereka mulai hilang, dan mereka kembali menjalani aktivitas seperti biasa.

 

Meski begitu…

 

Mereka tidak akan pernah melupakan kejadian misterius bersama Naufal di gunung keramat itu.

 

TAMAT

 

Terima kasih sudah membaca.

Tulisan Lainnya
Saat Malam Hari Raya Idul Fitri

Karya: Muhammad Haudzil Ulum – Kelas 7B Pada suatu hari di bulan Ramadan, ada seorang anak bernama Rayyan. Ia dikenal sebagai anak yang ceria dan suka bermain bersama teman-teman

31/05/2026 09:12 - Oleh Administrator - Dilihat 16 kali
Legenda Batu Gantung

Karya: Ahmad Syauqy Rahman - Kelas 7A Pada zaman dahulu kala, di sebuah desa kecil di tepi Danau Toba, hiduplah sepasang suami istri sederhana. Mereka memiliki seorang anak perempuan b

26/05/2026 09:17 - Oleh Administrator - Dilihat 20 kali
Cinta Seangkatan

Karya: Gholib Munandar - Kelas 7A Ini adalah cerita ketika aku masih duduk di kelas 3 SD. Saat itu, aku sering mengobrol dengan teman-teman perempuan sekelasku. Namun, ada satu orang y

19/05/2026 05:40 - Oleh Administrator - Dilihat 35 kali
Menjelang Idul Adha

Karya: Muhammad Sudrajat Ibadillah - Kelas 7B Suatu sore, Bintang bermain bersama teman-temannya. Mereka berjalan-jalan sambil melihat hewan-hewan yang akan dikurbankan, seperti sapi d

12/05/2026 10:45 - Oleh Administrator - Dilihat 162 kali
MTs Darun Najah Terbitkan Buku Kedua “Jejak Pena Anugerah”

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh MTs Darun Najah Petahunan Sumbersuko Lumajang dalam bidang literasi. Setelah sebelumnya menerbitkan karya antologi puisi, kini kembali hadi

25/04/2026 18:17 - Oleh Administrator - Dilihat 88 kali
MTs Darun Najah Terbitkan Buku Antologi Puisi “Sajak Rindu Santri” Karya Siswa-siswi

  MTs Darun Najah kembali menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan budaya literasi dengan menerbitkan sebuah buku antologi puisi berjudul Sajak Rindu Santri. Buku ini merupakan

22/04/2026 13:40 - Oleh Administrator - Dilihat 123 kali
Ibu, Buku Kehidupanku

  Karya: Maridabul Khumairoh – Kelas 8D   Ibu, engkau adalah buku segala ilmu, tempatku bertanya dan tempat semua masalahku bermuara. Engkau selalu tahu bagaiman

20/04/2026 10:41 - Oleh Administrator - Dilihat 44 kali
Lelahku Bersama Al-Qur’an

Lelahku Bersama Al-Qur’an   Karya: Divara Kamelia   Penat rasanya… namun aku harus bagaimana? Tak terhitung lagi berapa deret kalam yang telah kulantunkan,

14/03/2026 20:08 - Oleh Administrator - Dilihat 58 kali
Ramadhan Mubarak

Karya: Azhara | Kelas 8F   Ramadhan, bulan ampunan, mendidik jiwa menuliskan ketulusan iman. Di dalamnya hati ditempa, agar lebih sabar dan penuh harap.   Aku berharap

01/03/2026 08:23 - Oleh Administrator - Dilihat 52 kali
Ramadhan Kareem

Karya: Afkarina Auliatul Faizah   Bulan yang dinanti seluruh umat Muslim, hadir membawa cahaya dan harapan. Ribuan pahala menghiasi setiap detik, mengalir lembut di antara wak

25/02/2026 10:55 - Oleh Administrator - Dilihat 66 kali