Cinta Seangkatan
Karya: Gholib Munandar - Kelas 7A
Ini adalah cerita ketika aku masih duduk di kelas 3 SD. Saat itu, aku sering mengobrol dengan teman-teman perempuan sekelasku. Namun, ada satu orang yang paling sering berbicara denganku, yaitu A’yun.
A’yun juga satu tempat mengaji denganku. Kami sama-sama belajar di TPQ yang sama, sehingga kami semakin sering bertemu. Kami sering saling bertanya tentang pelajaran, tentang TPQ, bahkan tentang teman-teman di kelas.
Awalnya, aku menganggap semua itu biasa saja. Namun, seiring berjalannya waktu, aku mulai menyadari ada perasaan yang berbeda dalam hatiku. Setiap kali A’yun memanggil namaku, tiba-tiba hatiku berdebar kencang. Saat berbicara dengannya, rasanya tidak lagi seperti biasa. Aku sering diam-diam memandang wajahnya, dan entah kenapa, aku merasa sangat bahagia.
Perasaan itu semakin terasa ketika kami mendekati ujian akhir semester genap kelas 3. Pada hari ujian, tempat duduk kami diatur oleh guru. Dalam hati, aku berharap bisa duduk berdekatan dengan A’yun.
Ketika guru menyuruh kami mencari tempat duduk sesuai nama masing-masing, aku mulai panik. Aku tidak langsung menemukan namaku, dan juga tidak melihat A’yun di sekitarku. Aku berjalan melewati beberapa meja dengan perasaan gelisah.
Tiba-tiba, aku mendengar seseorang memanggil dari belakang. Saat aku menoleh, ternyata itu A’yun.
“Namamu di sini,” katanya sambil tersenyum.
Aku pun menghampirinya dan duduk di sebelahnya. Rasanya senang sekali karena ternyata aku bisa duduk dekat dengannya. Saat ujian dimulai, kami beberapa kali saling melirik dan tersenyum kecil. Momen itu terasa sangat berharga bagiku.
Saat istirahat, aku sering mengobrol dengan teman-teman dekat A’yun. Tanpa sadar, aku lebih sering menanyakan tentang A’yun kepada mereka. Rasa penasaranku semakin besar.
Suatu hari, salah satu temanku mengatakan bahwa A’yun sebenarnya menyukaiku. Awalnya aku tidak percaya. Untuk memastikan, aku meminta bantuan Sofia, teman dekat A’yun di TPQ, untuk menanyakannya langsung.
Sofia pun menghampiri A’yun dan berbicara dengannya. Aku hanya bisa mengintip dari kejauhan, menunggu dengan jantung berdebar. Tak lama kemudian, Sofia kembali.
“Kamu benar… A’yun memang suka sama kamu,” katanya.
Aku terdiam, kaget sekaligus senang. Aku tidak menyangka hal itu.
Keesokan harinya, aku memberanikan diri bertanya langsung.
“Yun, kamu suka sama siapa?”
A’yun hanya tersenyum,
“Ada deh… rahasia.”
Aku semakin penasaran, tetapi ia tetap tidak mau menjawab.
Setelah ujian selesai, A’yun tiba-tiba memberikan nomor WhatsApp miliknya. Aku sangat senang, meskipun masih ragu untuk mengirim pesan terlebih dahulu.
Malam harinya, akhirnya aku memberanikan diri.
Assalamu’alaikum, tulisku.
Tak lama kemudian, ia membalas.
Wa’alaikumussalam. Ini siapa?
Aku mencoba mengerjainya.
Belum tahu siapa, tapi sudah sok akrab saja.
Siapa sih?
Kalau nggak tahu, aku banci aja.
Ih, apaan sih! Serius, siapa?
Teman sekelas.
Teman sekelas? Jangan-jangan Gholib ya?
Aku tersenyum membaca itu.
Iya… aku Gholib.
Yang bener?
Iya.
Ia pun tertawa melalui pesan singkatnya. Sejak saat itu, kami mulai sering mengobrol. Rasa gugup perlahan berubah menjadi kebahagiaan.
Namun, suatu malam, percakapan kami tiba-tiba berhenti.
Yasudah deh…, tulisnya.
Aku masih ingin melanjutkan obrolan, tetapi ia tidak membalas lagi.
Keesokan harinya di sekolah, setelah ujian selesai, aku langsung menghampirinya.
“Yun, kenapa kemarin nggak balas chat?” tanyaku.
“Nggak apa-apa,” jawabnya singkat.
Aku pun mengajaknya ke belakang sekolah. Kami berjalan bersama, suasana terasa sepi dan sedikit menegangkan.
“Kenapa kita ke sini?” tanyanya.
Ia tiba-tiba terdiam, terlihat gugup. Beberapa saat kemudian, ia berkata pelan,
“Maukah kamu jadi pacarku?”
Aku kaget mendengarnya. Jantungku berdebar sangat kencang. Namun, aku mencoba menjawab dengan hati-hati.
“Aku mau… tapi dalam Islam tidak boleh pacaran seperti itu. Jadi kita berteman saja, tapi saling menjaga perasaan. Gimana?”
A’yun tersenyum kecil.
“Iya, tidak apa-apa. Yang penting… aku memang suka sama kamu.”
Aku pun tersenyum.
“Aku juga suka sama kamu, Yun.”
Sejak saat itu, kami menjadi lebih dekat. Kami saling mendukung, saling menjaga, dan tetap berteman dengan cara yang baik.
Hari-hari terasa lebih indah. Kebersamaan kecil dan obrolan sederhana menjadi kenangan yang berarti.
Dan sampai sekarang, aku dan A’yun masih bersama… sebagai dua orang yang saling menyimpan rasa dalam cara yang sederhana.
Tamat.
Tulisan Lainnya
Saat Malam Hari Raya Idul Fitri
Karya: Muhammad Haudzil Ulum – Kelas 7B Pada suatu hari di bulan Ramadan, ada seorang anak bernama Rayyan. Ia dikenal sebagai anak yang ceria dan suka bermain bersama teman-teman
Legenda Batu Gantung
Karya: Ahmad Syauqy Rahman - Kelas 7A Pada zaman dahulu kala, di sebuah desa kecil di tepi Danau Toba, hiduplah sepasang suami istri sederhana. Mereka memiliki seorang anak perempuan b
Gunung Keramat
Karya: M. Azzam Ghazy - Kelas: 7A Akhir-akhir ini media sosial ramai membicarakan sebuah gunung yang katanya keramat. Banyak warga desa yang percaya, tetapi ada juga ya
Menjelang Idul Adha
Karya: Muhammad Sudrajat Ibadillah - Kelas 7B Suatu sore, Bintang bermain bersama teman-temannya. Mereka berjalan-jalan sambil melihat hewan-hewan yang akan dikurbankan, seperti sapi d
MTs Darun Najah Terbitkan Buku Kedua “Jejak Pena Anugerah”
Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh MTs Darun Najah Petahunan Sumbersuko Lumajang dalam bidang literasi. Setelah sebelumnya menerbitkan karya antologi puisi, kini kembali hadi
MTs Darun Najah Terbitkan Buku Antologi Puisi “Sajak Rindu Santri” Karya Siswa-siswi
MTs Darun Najah kembali menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan budaya literasi dengan menerbitkan sebuah buku antologi puisi berjudul Sajak Rindu Santri. Buku ini merupakan
Ibu, Buku Kehidupanku
Karya: Maridabul Khumairoh – Kelas 8D Ibu, engkau adalah buku segala ilmu, tempatku bertanya dan tempat semua masalahku bermuara. Engkau selalu tahu bagaiman
Lelahku Bersama Al-Qur’an
Lelahku Bersama Al-Qur’an Karya: Divara Kamelia Penat rasanya… namun aku harus bagaimana? Tak terhitung lagi berapa deret kalam yang telah kulantunkan,
Ramadhan Mubarak
Karya: Azhara | Kelas 8F Ramadhan, bulan ampunan, mendidik jiwa menuliskan ketulusan iman. Di dalamnya hati ditempa, agar lebih sabar dan penuh harap. Aku berharap
Ramadhan Kareem
Karya: Afkarina Auliatul Faizah Bulan yang dinanti seluruh umat Muslim, hadir membawa cahaya dan harapan. Ribuan pahala menghiasi setiap detik, mengalir lembut di antara wak