Saat Malam Hari Raya Idul Fitri
Karya: Muhammad Haudzil Ulum – Kelas 7B
Pada suatu hari di bulan Ramadan, ada seorang anak bernama Rayyan. Ia dikenal sebagai anak yang ceria dan suka bermain bersama teman-temannya.
Suatu pagi, Rayyan bangun pukul 03.00 untuk sahur dan salat tahajud. Setelah selesai salat, ia menunggu azan Subuh sambil menelepon teman-temannya untuk mengajak olahraga pagi.
Tidak lama kemudian, azan Subuh berkumandang. Rayyan segera pergi ke musala untuk melaksanakan salat Subuh berjamaah. Setelah salat selesai, teman-temannya datang ke rumah untuk menjemputnya bermain di lapangan.
Sesampainya di lapangan, mereka bermain sepak bola dengan penuh semangat. Rayyan satu tim dengan Zidan dan Firman. Pertandingan berlangsung seru hingga akhirnya tim Rayyan berhasil menang.
Karena terlalu senang, Rayyan mengajak teman-temannya mandi di sungai. Mereka bercanda dan bermain air sampai lupa waktu. Tidak lama kemudian, ibu Rayyan mencarinya karena khawatir.
“Rayyan, cepat pulang!” panggil ibunya dari kejauhan.
Rayyan pun segera pulang ke rumah dengan pakaian basah kuyup. Sesampainya di rumah, ayahnya menasihatinya karena bermain terlalu lama.
“Bermain boleh, tapi jangan sampai lupa waktu dan membuat orang tua khawatir,” kata ayahnya dengan lembut.
Rayyan hanya menunduk sambil meminta maaf.
Pada sore harinya, Rayyan melaksanakan salat Asar. Setelah itu, ia pergi ngabuburit bersama teman-temannya sambil menunggu waktu berbuka puasa.
Ketika azan Magrib berkumandang, Rayyan segera pulang dan berbuka puasa bersama keluarganya dengan kurma dan es teh buatan ibunya. Suasana rumah terasa hangat dan penuh kebahagiaan.
Malam itu, Rayyan dijemput oleh Zidan, Firman, dan Joko untuk pergi ke masjid mengikuti takbiran malam Idulfitri. Mereka bertakbir bersama warga sambil menikmati makanan yang disediakan di masjid.
Setelah salat Isya berjamaah, mereka kembali bertakbir dengan penuh semangat. Tidak lama kemudian, mereka mengambil sepeda dan pergi ke desa sebelah untuk melihat festival obor dan pesta kembang api.
Langit malam yang dipenuhi cahaya kembang api membuat mereka terpukau. Festival obor yang meriah membuat suasana malam takbiran terasa sangat indah.
“Semoga kita bisa berkumpul lagi seperti ini tahun depan,” kata Firman sambil tersenyum.
“Aamiin,” jawab mereka bersama.
Karena terlalu asyik menikmati suasana, mereka pulang hingga larut malam. Sesampainya di rumah, Rayyan langsung tidur agar tidak kesiangan untuk salat Idulfitri.
Keesokan harinya, Rayyan dibangunkan oleh kedua orang tuanya pukul 03.30. Ia segera mencuci muka dan berwudu, lalu melaksanakan salat Subuh berjamaah.
Setelah itu, Rayyan mandi dan mengenakan baju baru yang sudah dibelikan orang tuanya beberapa minggu sebelumnya. Ia tampak sangat senang memakai pakaian barunya.
Di meja makan, ibu sudah menyiapkan lontong dan opor ayam kesukaan Rayyan. Mereka makan bersama sambil bercanda dan tertawa.
Sebelum berangkat ke masjid, Rayyan masuk ke kamar untuk mengambil kopiah dan mengisi daya handphone-nya. Setelah itu, ia berangkat bersama ayahnya menuju masjid.
Sesampainya di masjid, Rayyan dan ayahnya duduk di saf tengah. Ketika salat Idulfitri akan dimulai, Rayyan terkejut karena yang menjadi bilal ternyata ayahnya sendiri.
Dengan suara yang lantang dan merdu, ayah Rayyan mengumandangkan bilal salat Idulfitri. Rayyan merasa bangga dan terharu melihat ayahnya berdiri di depan banyak orang.
“Itu ayahku,” gumam Rayyan dalam hati sambil tersenyum bangga.
Setelah selesai salat Idulfitri, Rayyan pulang ke rumah untuk mengambil buah yang sudah dipotong oleh ayahnya. Buah itu akan dibawa ke masjid untuk acara halal bihalal.
Di perjalanan menuju masjid, Rayyan melihat buah yang dibawanya tampak segar dan manis. Ia pun diam-diam memakan sedikit buah tersebut sambil tersenyum malu.
Sesampainya di masjid, acara halal bihalal sudah dimulai. Rayyan segera meletakkan buah yang dibawanya, lalu duduk bersama teman-temannya.
Setelah acara selesai, Rayyan pulang ke rumah. Sambil menunggu ayahnya pulang dari masjid, ia bermain handphone sambil mengirim pesan kepada teman-temannya.
“Mohon maaf lahir dan batin ya,” tulis Rayyan kepada mereka.
Tidak lama kemudian, ayahnya pulang. Rayyan langsung memeluk kedua orang tuanya dengan mata berkaca-kaca.
“Maafkan Rayyan kalau selama ini sering nakal dan membuat Ayah serta Ibu marah,” ucap Rayyan pelan.
Ibu Rayyan tersenyum sambil mengusap kepala anaknya.
“Kami sudah memaafkanmu. Yang penting Rayyan mau berubah menjadi anak yang lebih baik,” kata ibunya.
Ayah Rayyan juga memeluknya erat. Suasana rumah terasa hangat dan penuh kasih sayang. Rayyan merasa sangat bahagia memiliki keluarga yang selalu menyayanginya.
Tidak lama kemudian, para tetangga datang untuk bersilaturahmi. Rayyan segera memakai sandal dan ikut bersama kedua orang tuanya mengunjungi rumah-rumah tetangga.
Di tengah perjalanan, Rayyan bertemu dengan sahabatnya, Zidan dan Firman. Mereka saling berjabat tangan dan meminta maaf satu sama lain.
“Maaf ya kalau aku pernah salah,” kata Zidan.
“Aku juga minta maaf,” jawab Rayyan sambil tersenyum.
Tak lama kemudian, orang tua Rayyan mengajaknya pergi berziarah ke makam keluarga. Di sana sudah banyak orang yang datang untuk berdoa.
Setelah selesai berziarah, mereka melanjutkan perjalanan ke rumah kakek dan nenek Rayyan. Kedatangan mereka disambut dengan pelukan hangat dan senyum bahagia.
“Rayyan sudah besar sekarang,” kata nenek sambil memeluk cucunya.
Rayyan tersenyum bahagia karena sudah lama tidak bertemu dengan kakek dan neneknya.
Ketika azan Zuhur berkumandang, Rayyan pergi ke musala terdekat untuk melaksanakan salat berjamaah. Setelah itu, ia kembali bersama keluarganya untuk melanjutkan silaturahmi ke rumah paman dan bibinya.
Hari itu terasa sangat melelahkan, tetapi juga sangat menyenangkan. Rayyan belajar bahwa Hari Raya Idulfitri bukan hanya tentang pakaian baru dan makanan enak, tetapi juga tentang saling memaafkan, berbagi kebahagiaan, dan mempererat tali silaturahmi.
Malam harinya, Rayyan duduk di teras rumah sambil melihat langit yang cerah. Ia tersenyum mengingat semua kejadian indah hari itu.
“Lebaran tahun ini benar-benar membahagiakan,” ucap Rayyan pelan.
Kedua orang tuanya tersenyum mendengar perkataan itu. Mereka pun duduk bersama menikmati malam dengan hati yang damai dan penuh rasa syukur.
Tulisan Lainnya
Legenda Batu Gantung
Karya: Ahmad Syauqy Rahman - Kelas 7A Pada zaman dahulu kala, di sebuah desa kecil di tepi Danau Toba, hiduplah sepasang suami istri sederhana. Mereka memiliki seorang anak perempuan b
Gunung Keramat
Karya: M. Azzam Ghazy - Kelas: 7A Akhir-akhir ini media sosial ramai membicarakan sebuah gunung yang katanya keramat. Banyak warga desa yang percaya, tetapi ada juga ya
Cinta Seangkatan
Karya: Gholib Munandar - Kelas 7A Ini adalah cerita ketika aku masih duduk di kelas 3 SD. Saat itu, aku sering mengobrol dengan teman-teman perempuan sekelasku. Namun, ada satu orang y
Menjelang Idul Adha
Karya: Muhammad Sudrajat Ibadillah - Kelas 7B Suatu sore, Bintang bermain bersama teman-temannya. Mereka berjalan-jalan sambil melihat hewan-hewan yang akan dikurbankan, seperti sapi d
MTs Darun Najah Terbitkan Buku Kedua “Jejak Pena Anugerah”
Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh MTs Darun Najah Petahunan Sumbersuko Lumajang dalam bidang literasi. Setelah sebelumnya menerbitkan karya antologi puisi, kini kembali hadi
MTs Darun Najah Terbitkan Buku Antologi Puisi “Sajak Rindu Santri” Karya Siswa-siswi
MTs Darun Najah kembali menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan budaya literasi dengan menerbitkan sebuah buku antologi puisi berjudul Sajak Rindu Santri. Buku ini merupakan
Ibu, Buku Kehidupanku
Karya: Maridabul Khumairoh – Kelas 8D Ibu, engkau adalah buku segala ilmu, tempatku bertanya dan tempat semua masalahku bermuara. Engkau selalu tahu bagaiman
Lelahku Bersama Al-Qur’an
Lelahku Bersama Al-Qur’an Karya: Divara Kamelia Penat rasanya… namun aku harus bagaimana? Tak terhitung lagi berapa deret kalam yang telah kulantunkan,
Ramadhan Mubarak
Karya: Azhara | Kelas 8F Ramadhan, bulan ampunan, mendidik jiwa menuliskan ketulusan iman. Di dalamnya hati ditempa, agar lebih sabar dan penuh harap. Aku berharap
Ramadhan Kareem
Karya: Afkarina Auliatul Faizah Bulan yang dinanti seluruh umat Muslim, hadir membawa cahaya dan harapan. Ribuan pahala menghiasi setiap detik, mengalir lembut di antara wak