Rumah Masa Kecilku yang Ditinggalkan
Penulis: Ahmad Syauqy Rahman dan Andhika Syande Pratama
Pada suatu hari, hiduplah sepasang suami istri yang sedang berbahagia karena baru saja dikaruniai seorang anak laki-laki. Bayi itu baru berusia dua hari ketika untuk pertama kalinya dibawa pulang ke rumah sederhana yang akan menjadi tempat ia tumbuh dan menyimpan banyak kenangan.
Saat memasuki rumah, sang ibu menggendong bayinya dengan penuh kasih sayang.
“Nak, inilah rumahmu sekarang,” ucapnya sambil tersenyum haru.
Seolah memahami perkataan ibunya, bayi kecil itu menatap wajah sang ibu dengan mata beningnya. Sang ibu pun tersenyum bahagia melihat buah hatinya.
Lima hari kemudian, keluarga besar berkumpul untuk mengadakan acara pemberian nama. Rumah kecil itu terasa hangat dan ramai oleh kehadiran sanak saudara.
Kakek dari bayi tersebut datang dengan wajah penuh kebahagiaan. Sebelum acara dimulai, ia menggendong cucunya dengan sangat hati-hati.
“Semoga cucuku tumbuh menjadi anak yang saleh dan membanggakan keluarga,” bisik sang kakek.
Setelah doa dipanjatkan bersama, ayah bayi itu berdiri dan mengumumkan nama putra pertamanya.
“Dengan mengucapkan bismillah, kami memberi nama anak kami Ahmad Abizar Al-Ghifani,” ucap sang ayah.
Semua yang hadir mengucapkan syukur dan doa terbaik untuk bayi tersebut. Sejak saat itu, ia lebih sering dipanggil dengan nama Abizar.
Waktu terus berjalan. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan berganti tahun. Tanpa terasa, Abizar tumbuh menjadi anak yang ceria dan aktif.
Saat berusia tiga tahun, Abizar mulai bersekolah di Kelompok Bermain (KB) yang letaknya tidak jauh dari rumahnya. Setahun kemudian, tepat setelah ulang tahunnya yang keempat, ia memasuki hari pertama sekolah dengan penuh semangat.
Sesampainya di kelas, guru meminta setiap murid memperkenalkan diri.
Dengan sedikit gugup, Abizar berdiri dan berkata,
“Halo, teman-teman. Namaku Ahmad Abizar Al-Ghifani. Kalian bisa memanggilku Abizar.”
“Halo, Abizar!” jawab teman-temannya serempak.
Mendengar sapaan itu, rasa gugup Abizar perlahan menghilang. Ia mulai merasa nyaman berada di lingkungan barunya.
Sepulang sekolah, ia bermain di rumah, lalu sore harinya pergi mengaji di dekat rumah neneknya. Setelah mengaji, ibunya memandikannya dengan penuh kasih sayang. Kehidupan Abizar berjalan bahagia dan sederhana.
Waktu kembali berlalu. Tanpa terasa, Abizar kini berusia lima tahun dan akan masuk Taman Kanak-Kanak (TK).
Beberapa hari sebelum masuk sekolah, ibunya berkata,
“Nak, sebentar lagi kamu akan masuk TK. Sudah siap?”
“Siap, Bu!” jawab Abizar dengan semangat.
Malam harinya, setelah makan bersama ibunya, Abizar teringat pada ayahnya yang sedang bekerja di luar kota. Ia pun menelepon ayahnya.
“Halo, Ayah. Bagaimana kabarnya?”
“Alhamdulillah, Ayah sehat. Bagaimana kabar Abizar?” jawab sang ayah.
“Abizar juga sehat, Yah. Sebentar lagi Abizar masuk TK.”
“Wah, anak Ayah sudah semakin besar. Belajar yang rajin, ya.”
“Iya, Yah,” jawab Abizar sambil tersenyum.
Setelah telepon ditutup, ibunya bertanya,
“Sudah menelepon Ayah, Nak?”
“Sudah, Bu. Kata Ayah, Ayah sehat.”
Tak lama kemudian, terdengar suara kendaraan berhenti di depan rumah.
“Assalamu'alaikum.”
Abizar langsung menoleh. Matanya membelalak karena terkejut.
“Ayah!”
Ia berlari sekencang mungkin dan memeluk ayahnya erat-erat.
“Ayah kok pulang?” tanyanya penuh kebahagiaan.
“Memangnya Ayah tidak boleh pulang?” goda sang ayah.
“Boleh, tapi Ayah kan kerja di luar kota.”
Ayah tersenyum.
“Ayah sedang mendapat cuti selama satu bulan.”
Mendengar itu, Abizar melompat kegirangan.
“Yeay! Berarti Ayah bisa bermain sama Abizar setiap hari!”
“Tentu saja,” jawab ayahnya.
Hari-hari berikutnya menjadi hari yang sangat membahagiakan bagi Abizar. Ia bermain, belajar, dan menghabiskan waktu bersama ayahnya. Rumah kecil itu terasa semakin hangat karena kembali lengkap.
Namun, kebahagiaan itu ternyata tidak berlangsung lama.
Suatu sore, telepon ayahnya berdering. Wajah ayah yang semula ceria berubah serius.
“Ada apa, Yah?” tanya Abizar.
“Ayah harus kembali bekerja, Nak. Ada masalah penting di kantor yang harus segera diselesaikan.”
Senyum Abizar langsung menghilang.
“Tidak bisa besok saja, Yah?”
Ayah menggeleng.
“Maaf, Nak. Ayah harus berangkat malam ini juga.”
Mata Abizar mulai berkaca-kaca.
“Ayah... jangan pergi lagi.”
Ayah berjongkok dan memegang kedua bahunya.
“Abizar, Ayah bekerja untuk keluarga kita.”
“Tapi Abizar mau Ayah di sini saja. Sampai Abizar besar. Sampai umur sepuluh tahun. Pokoknya Abizar mau Ayah tetap di rumah!”
Air mata mulai mengalir di pipi kecilnya.
Ayah memeluknya erat.
“Maafkan Ayah, Nak. Ayah janji akan pulang lagi.”
Saat waktu keberangkatan tiba, Abizar memeluk ayahnya sekuat tenaga.
“Ayah jangan pergi...”
Tangisnya semakin keras ketika pelukannya perlahan dilepaskan.
Ayah mencium keningnya.
“Jaga Ibu baik-baik, ya.”
“Selamat jalan, Ayah...” ucap Abizar sambil menangis.
Mobil ayahnya perlahan menjauh hingga menghilang di ujung jalan.
Rumah yang tadi terasa hangat mendadak terasa sepi.
Di perjalanan menuju tempat kerja, ayah Abizar merasa gelisah. Entah mengapa, ia terus teringat wajah anaknya yang menangis saat ditinggalkan.
Beberapa jam kemudian, sebuah truk yang kehilangan kendali melaju dari arah berlawanan.
BRAAAAKK!
Suara benturan keras memecah malam.
Mobil ayah Abizar tertabrak dengan sangat keras hingga bagian depannya ringsek. Tubuh ayah Abizar terjepit di dalam kendaraan.
Warga sekitar segera berdatangan membantu.
“Ada kecelakaan!”
“Tolong panggil ambulans!”
Tak lama kemudian, polisi, petugas penyelamat, dan ambulans tiba di lokasi.
Sementara itu, telepon di rumah Abizar berdering.
Ibunya mengangkat telepon tersebut. Wajahnya langsung pucat.
“Ibu... ada apa?” tanya Abizar panik.
Sang ibu menahan tangis.
“Ayahmu... mengalami kecelakaan.”
“Hah?! Ayah?!”
Jantung Abizar berdegup sangat kencang.
Tanpa membuang waktu, mereka segera menuju rumah sakit.
Sepanjang perjalanan, Abizar terus berdoa sambil menangis.
“Ya Allah... tolong selamatkan Ayahku...”
Sesampainya di rumah sakit, mereka menunggu dengan perasaan cemas.
“Dokter, bagaimana keadaan suami saya?” tanya ibunya.
Dokter tersenyum tipis.
“Alhamdulillah, nyawanya berhasil diselamatkan. Namun, beliau mengalami beberapa patah tulang dan harus menjalani perawatan cukup lama.”
Mendengar itu, Abizar langsung menangis lega.
“Alhamdulillah...”
Ketika diizinkan masuk ke ruang perawatan, Abizar melihat ayahnya terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.
“Ayah...” panggilnya lirih.
Ayah membuka mata perlahan dan tersenyum.
“Abizar...”
Tanpa ragu, Abizar langsung memeluk ayahnya.
“Maafkan Abizar, Yah. Tadi Abizar marah karena Ayah pergi kerja lagi.”
Ayah mengusap kepala putranya.
“Tidak apa-apa, Nak. Ayah tahu Abizar hanya sayang kepada Ayah.”
Malam itu, mereka bertiga saling berpelukan. Tidak ada yang lebih mereka syukuri selain masih bisa berkumpul bersama.
Beberapa bulan kemudian, kondisi ayah Abizar semakin membaik. Karena kecelakaan tersebut, ia memutuskan untuk tidak lagi bekerja jauh dari keluarga.
“Ayah ingin lebih banyak waktu bersama kalian,” katanya.
Abizar sangat bahagia mendengarnya.
Sejak saat itu, keluarga mereka menjalani kehidupan yang sederhana tetapi penuh kebersamaan. Ayah bekerja di kota yang lebih dekat sehingga setiap hari bisa pulang ke rumah.
Tahun demi tahun berlalu.
Abizar tumbuh menjadi anak yang rajin, sopan, dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Rumah kecil tempat ia dilahirkan menjadi saksi berbagai kenangan: langkah pertamanya, hari pertama sekolah, pelukan ayah, kasih sayang ibu, hingga malam ketika ia hampir kehilangan orang yang paling dicintainya.
Namun, waktu tidak pernah berhenti.
Ketika dewasa, Abizar harus melanjutkan pendidikan dan bekerja di kota lain. Rumah masa kecilnya perlahan menjadi sepi karena jarang ditempati.
Suatu hari, setelah bertahun-tahun merantau, Abizar kembali ke rumah itu.
Ia berdiri di depan pagar yang mulai berkarat. Dinding rumah sudah tampak tua, tetapi kenangannya masih terasa begitu hidup.
Di teras rumah, ia teringat saat bermain bersama ayahnya. Di ruang tamu, ia teringat tawa ibunya. Di kamarnya, ia teringat malam-malam ketika kedua orang tuanya menemaninya tidur.
Tanpa sadar, air mata menetes di pipinya.
“Rumah ini mungkin sudah tua,” gumamnya, “tetapi semua kenangan indahku masih tinggal di sini.”
Tak lama kemudian, ayah dan ibunya datang menghampiri.
“Apa yang sedang kamu pikirkan, Nak?” tanya ayahnya.
Abizar tersenyum sambil mengusap air matanya.
“Aku sedang mengingat semua kenangan di rumah ini. Tempat aku belajar berjalan, belajar mengaji, bermain bersama Ayah dan Ibu, dan tempat aku hampir kehilangan Ayah.”
Ayah tersenyum haru.
“Rumah bukan hanya tentang bangunan, Nak. Rumah adalah tempat di mana ada cinta, doa, dan keluarga.”
Abizar mengangguk.
Ia lalu memeluk kedua orang tuanya dengan erat.
“Terima kasih, Ayah. Terima kasih, Ibu. Karena kalian, rumah ini selalu menjadi tempat terindah dalam hidupku.”
Matahari sore perlahan tenggelam di ufuk barat. Cahaya keemasannya menyinri rumah kecil yang penuh kenangan itu.
Saat itulah Abizar menyadari bahwa meskipun suatu hari rumah masa kecilnya akan ditinggalkan, cinta, kasih sayang, dan kenangan yang pernah tumbuh di dalamnya akan selalu hidup di dalam hatinya selamanya.
Tamat.
Tulisan Lainnya
Saat Malam Hari Raya Idul Fitri
Karya: Muhammad Haudzil Ulum – Kelas 7B Pada suatu hari di bulan Ramadan, ada seorang anak bernama Rayyan. Ia dikenal sebagai anak yang ceria dan suka bermain bersama teman-teman
Legenda Batu Gantung
Karya: Ahmad Syauqy Rahman - Kelas 7A Pada zaman dahulu kala, di sebuah desa kecil di tepi Danau Toba, hiduplah sepasang suami istri sederhana. Mereka memiliki seorang anak perempuan b
Gunung Keramat
Karya: M. Azzam Ghazy - Kelas: 7A Akhir-akhir ini media sosial ramai membicarakan sebuah gunung yang katanya keramat. Banyak warga desa yang percaya, tetapi ada juga ya
Cinta Seangkatan
Karya: Gholib Munandar - Kelas 7A Ini adalah cerita ketika aku masih duduk di kelas 3 SD. Saat itu, aku sering mengobrol dengan teman-teman perempuan sekelasku. Namun, ada satu orang y
Menjelang Idul Adha
Karya: Muhammad Sudrajat Ibadillah - Kelas 7B Suatu sore, Bintang bermain bersama teman-temannya. Mereka berjalan-jalan sambil melihat hewan-hewan yang akan dikurbankan, seperti sapi d
MTs Darun Najah Terbitkan Buku Kedua “Jejak Pena Anugerah”
Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh MTs Darun Najah Petahunan Sumbersuko Lumajang dalam bidang literasi. Setelah sebelumnya menerbitkan karya antologi puisi, kini kembali hadi
MTs Darun Najah Terbitkan Buku Antologi Puisi “Sajak Rindu Santri” Karya Siswa-siswi
MTs Darun Najah kembali menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan budaya literasi dengan menerbitkan sebuah buku antologi puisi berjudul Sajak Rindu Santri. Buku ini merupakan
Ibu, Buku Kehidupanku
Karya: Maridabul Khumairoh – Kelas 8D Ibu, engkau adalah buku segala ilmu, tempatku bertanya dan tempat semua masalahku bermuara. Engkau selalu tahu bagaiman
Lelahku Bersama Al-Qur’an
Lelahku Bersama Al-Qur’an Karya: Divara Kamelia Penat rasanya… namun aku harus bagaimana? Tak terhitung lagi berapa deret kalam yang telah kulantunkan,
Ramadhan Mubarak
Karya: Azhara | Kelas 8F Ramadhan, bulan ampunan, mendidik jiwa menuliskan ketulusan iman. Di dalamnya hati ditempa, agar lebih sabar dan penuh harap. Aku berharap