Akibat Terlalu Sering Nonton Film Horor
Karya: M. Azzam Ghazy | Kelas 8
Aulia adalah seorang anak yang sebenarnya cukup berani. Namun, ia memiliki satu kebiasaan yang sulit ditinggalkan: menonton film horor.
Hampir setiap ada film horor terbaru, Aulia selalu ingin menontonnya. Sesekali ia pergi ke bioskop, tetapi lebih sering ia menonton melalui laptop karena tidak perlu mengeluarkan uang.
Suatu hari, Aulia mengetahui bahwa ada film horor terbaru yang sedang ramai diperbincangkan. Film itu sangat menarik perhatiannya. Sayangnya, film tersebut hanya tersedia di bioskop.
Tanpa berpikir panjang, Aulia pun pergi ke bioskop terdekat.
Setelah membeli tiket, ia segera masuk ke dalam studio.
Lampu perlahan dipadamkan.
Layar yang semula terang berubah menjadi gelap. Musik pembuka terdengar pelan, kemudian semakin lama semakin menegangkan.
Aulia tetap tenang.
Awalnya ia bahkan sempat tersenyum melihat beberapa adegan yang menurutnya biasa saja. Namun, semakin lama film berlangsung, suasananya semakin mencekam.
Suara pintu berderit.
Suara langkah kaki terdengar dari kegelapan.
Kemudian muncul sosok misterius dengan wajah yang menyeramkan.
Aulia mulai merasa tidak nyaman.
Jantungnya berdetak semakin cepat.
Namun, ia tetap memaksakan diri untuk menonton sampai film selesai.
Beberapa jam kemudian, film akhirnya berakhir.
Lampu studio menyala.
Aulia hendak berdiri dari kursinya.
Namun, tiba-tiba pandangannya menjadi gelap.
Bruk!
Tubuh Aulia jatuh dan ia pun pingsan.
Untungnya, seorang karyawan bioskop melihat kejadian tersebut. Ia segera menghampiri Aulia dan memberikan pertolongan.
Beberapa menit kemudian, Aulia membuka matanya.
"Sudah sadar?" tanya karyawan itu.
Aulia mengangguk pelan. Wajahnya masih terlihat pucat.
"Kalau sudah merasa lebih baik, sebaiknya kamu pulang dulu. Istirahat di rumah."
"Sudah..." jawab Aulia lirih.
Aulia kemudian berdiri dan meninggalkan bioskop.
Namun, sejak saat itu, sesuatu terasa berbeda.
Aulia yang sebelumnya tidak mudah takut, kini justru menjadi sangat penakut.
Bayangan-bayangan dari film yang baru saja ditontonnya terus berputar di dalam pikirannya.
Sesampainya di rumah, ketakutannya semakin menjadi-jadi.
Rumah Aulia berada di bagian belakang dan cukup jauh dari rumah tetangga. Saat itu suasana sekitar terasa sepi. Tidak ada seorang pun di rumah-rumah tetangga karena sebagian besar sedang pergi keluar.
Aulia masuk ke rumah dengan langkah tergesa-gesa.
"Kenapa aku jadi takut begini, sih?" gumamnya.
Ia mencoba menenangkan diri.
Namun, ketika melewati sebuah ruangan, Aulia tiba-tiba merasa seperti ada seseorang yang sedang memperhatikannya.
Ia berhenti.
Perlahan, ia menoleh ke belakang.
Tidak ada siapa-siapa.
Aulia menghela napas panjang.
"Mungkin cuma perasaanku."
Tak lama kemudian, terdengar azan Zuhur.
Aulia segera mengambil air wudu.
Ia mencoba mengalihkan pikirannya dengan beribadah.
Namun, perasaan aneh itu kembali muncul.
Seolah-olah ada seseorang yang sedang mengawasinya.
Aulia menoleh ke belakang.
Kosong.
Tidak ada siapa pun.
Ia kembali melanjutkan wudunya hingga selesai.
Saat hendak berjalan menuju tempat salat, tiba-tiba...
Aulia melihat sosok berwarna putih berdiri tidak jauh darinya.
Aulia membeku.
Sosok itu diam.
Kemudian terdengar suara lirih.
"Aulia..."
Aulia terkejut.
Suara itu terdengar begitu jelas.
"Aulia..."
Kali ini terdengar lebih dekat.
"Siapa kamu?!" tanya Aulia dengan suara gemetar.
Ia mundur beberapa langkah.
Namun, ketika Aulia kembali melihat ke arah sosok itu...
Sosok tersebut sudah menghilang.
Jantung Aulia berdegup sangat kencang.
Dag... dig... dug...
Tangannya gemetar.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" bisiknya.
Aulia segera berlari menuju tempat salat.
Sesampainya di sana, ia mengambil mukena dan segera memakainya.
Namun, bahkan ketika sedang bersiap untuk salat, pikirannya masih dipenuhi adegan film horor yang baru saja ditontonnya.
"Kenapa aku jadi begini, ya?" gumam Aulia.
Ia mencoba menarik napas dalam-dalam.
"Tenang... tenang..."
Aulia berdiri dan bersiap mengangkat tangan untuk takbiratul ihram.
Namun, tiba-tiba...
Dor!
Sesuatu seperti mendorong punggungnya dari belakang.
Aulia langsung menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
Padahal, tepat di belakangnya hanya ada tembok.
Bulu kuduk Aulia berdiri.
"Waduh... kayaknya dulu aku tidak sepenakut ini," ucapnya dengan suara gemetar.
Ia berusaha mengabaikan kejadian itu.
Salat pun dimulai.
Beberapa menit kemudian, salat Zuhur selesai.
Namun, rasa takut itu belum juga hilang.
Sejak menonton film tadi, bayangan-bayangan aneh seakan terus mengikutinya.
Kadang Aulia merasa melihat wajah menyeramkan di sudut ruangan.
Kadang ia melihat sosok putih berdiri di kejauhan.
Bahkan beberapa kali ia merasa melihat sosok tanpa kepala yang berdiri diam di tempat-tempat yang tidak pernah ia duga.
Sore harinya, ketika Aulia masih duduk termenung memikirkan kejadian yang dialaminya, tiba-tiba terdengar suara dari luar.
"Aulia!"
Aulia menoleh.
Seorang anak berdiri di depan rumahnya.
Teman Aulia.
"Yuk, main!" ajak anak itu.
Aulia hendak menjawab.
Namun tiba-tiba tubuhnya membeku.
Ia melihat sesuatu yang sangat mengerikan.
Anak itu tidak memiliki kepala.
Aulia menatapnya dengan mata terbelalak.
"Lo... kok anak ini..." gumam Aulia dengan suara bergetar.
Namun, ketika Aulia mengedipkan mata, sosok itu tampak seperti biasa.
Aulia semakin bingung.
"Jangan-jangan aku cuma berhalusinasi karena terlalu sering menonton film horor," pikirnya.
Beberapa saat kemudian, anak itu dipanggil berkali-kali oleh keluarganya.
"Ayo pulang!"
Teman Aulia akhirnya pergi meninggalkan rumah.
Aulia kembali sendirian.
Hari mulai gelap.
Ia melihat ke arah rumah tetangga.
"Kenapa tetanggaku belum pulang-pulang, ya?" ucap Aulia dengan nada takut.
Jam dinding menunjukkan pukul 20.00.
Malam semakin larut.
Rumah Aulia semakin sunyi.
Tidak ada suara orang berbicara.
Tidak ada suara kendaraan.
Hanya suara angin yang sesekali terdengar dari luar.
Tiba-tiba...
Tok... tok... tok...
Seseorang mengetuk pintu.
Aulia terkejut.
Ia mengira mungkin tetangganya datang.
"Siapa lagi ini?" tanyanya dengan suara gemetar.
Tok... tok... tok...
Ketukan terdengar lagi.
Aulia perlahan berjalan menuju pintu.
Tangannya gemetar saat memegang gagang pintu.
"Siapa?"
Tidak ada jawaban.
Aulia memberanikan diri membuka pintu.
Kreeeek...
Pintu terbuka.
Namun...
Tidak ada siapa-siapa.
Aulia menatap ke kanan dan ke kiri.
Kosong.
Jalan di depan rumahnya juga sepi.
Aulia buru-buru menutup pintu.
Duk!
Ia menguncinya rapat-rapat.
Namun kejadian itu tidak berhenti.
Beberapa menit kemudian...
Tok... tok... tok...
Aulia terdiam.
Ketukan terdengar lagi.
Untuk ketiga kalinya, suara itu kembali terdengar.
Tok... tok... tok...
Aulia menutup telinganya.
"Siapa sebenarnya yang mengetuk pintuku?" bisiknya.
Setelah beberapa saat, suara ketukan itu berhenti.
Rumah kembali sunyi.
Jam dinding menunjukkan pukul 22.09.
Aulia memutuskan untuk tidur.
Ia masuk ke kamar dan berbaring di tempat tidur.
Malam itu ia berusaha memejamkan mata.
Tak lama kemudian, akhirnya Aulia tertidur.
Entah berapa lama ia tertidur.
Tiba-tiba Aulia terbangun.
Matanya terbuka.
Namun tubuhnya tidak bisa bergerak.
Tangannya tidak bisa diangkat.
Kakinya tidak bisa digerakkan.
Bahkan untuk berteriak pun ia tidak mampu.
"Loh... kenapa ini?" batinnya panik.
Aulia berusaha sekuat tenaga menggerakkan tubuhnya.
Tidak bisa.
Ia mencoba memejamkan mata lalu membukanya kembali.
Perlahan...
Pandangan matanya mulai jelas.
Di depannya berdiri sebuah sosok.
Aulia membeku.
Sosok itu tampak sangat menyeramkan.
Wajahnya seperti rusak dan hancur.
Aulia ingin berteriak.
Namun suaranya tidak keluar.
Sosok itu hanya berdiri diam menatapnya.
Beberapa saat kemudian, tubuh Aulia tiba-tiba bisa digerakkan kembali.
Aulia langsung menarik selimut hingga menutupi tubuhnya.
Napasnya memburu.
"Ya Allah... apa yang sebenarnya terjadi?" bisiknya.
Beberapa menit berlalu.
Aulia masih terjaga.
Tiba-tiba...
Kedip... kedip...
Lampu kamar berkedip.
Aulia menoleh.
Ia mengira lampu itu sedang bermasalah.
Namun lampu kembali berkedip.
Kedip... kedip...
Lalu mati.
Aulia terdiam.
Beberapa detik kemudian, lampu menyala kembali.
Aulia menarik napas lega.
Namun ketika ia melihat ke arah pintu...
Tidak ada apa-apa.
Aulia mencoba menenangkan dirinya.
"Sudahlah... mungkin aku terlalu takut."
Ia kembali berbaring.
Namun belum sempat memejamkan mata, ia melihat sesuatu dari kejauhan.
Sosok putih.
Berdiri diam.
Aulia menatapnya dengan ketakutan.
"Eh... apa itu?" ucapnya lirih.
Sosok tersebut tidak bergerak.
Aulia mengedipkan mata.
Sosok itu tiba-tiba menghilang.
Aulia langsung menarik selimut.
"Ya Allah..."
Ia memejamkan mata dan mencoba tidur kembali.
Beberapa saat kemudian, Aulia memberanikan diri bangun untuk mengambil sesuatu.
Saat berjalan menuju tempat tidurnya...
Tiba-tiba terdengar suara.
Wusss...!
Sesuatu melintas sangat cepat di depan Aulia.
Aulia terkejut.
"Wa... apa itu?!"
Ia langsung mengambil ponselnya dan menyalakan lampu flash.
Cahaya putih menyapu seluruh ruangan.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya kamar yang sunyi.
Aulia semakin ketakutan.
"Siapa itu?" ucapnya dengan suara bergetar.
Ia tidak berani lagi keluar dari tempat tidurnya.
Akhirnya, setelah melewati malam yang panjang dan penuh ketakutan, Aulia tertidur sekitar pukul 01.00 dini hari.
Keesokan paginya, cahaya matahari mulai masuk melalui celah jendela.
Aulia terbangun.
Jam menunjukkan pukul 06.00.
Ia bangkit dari tempat tidur.
Namun ketika melihat sekeliling kamar...
Aulia mendadak terdiam.
Matanya membesar.
Di dinding, pintu, bahkan beberapa bagian lemari, terdapat bekas goresan seperti cakaran.
Aulia mendekatinya dengan langkah gemetar.
"Apa ini?"
Ia menyentuh salah satu bekas goresan.
Bekas itu terlihat sangat dalam.
Aulia mundur perlahan.
"Bekas goresan ini... dari siapa?"
Wajahnya perlahan menjadi pucat.
"Huaa... kenapa kamar aku jadi begini?!"
Aulia berteriak ketakutan.
Untuk pertama kalinya, ia mulai berpikir bahwa mungkin semua kejadian yang dialaminya bukan sekadar akibat terlalu sering menonton film horor.
Beberapa menit kemudian, Aulia bersiap untuk mandi.
Setelah selesai, ia berganti pakaian dan keluar rumah untuk membeli sarapan.
Sesampainya di pasar, Aulia melihat seorang ibu sedang berjualan makanan.
"Bu, saya mau membeli makanan ini," ucap Aulia.
"Silakan, Nak," jawab ibu itu.
Aulia mengambil makanan yang diinginkannya.
Namun ketika hendak membayar, ia tiba-tiba menyadari sesuatu.
Pasar itu sangat sepi.
Padahal biasanya pasar selalu ramai oleh pembeli dan pedagang.
Aulia melihat ke kanan dan ke kiri.
"Bu, kok tidak ada orang lain, ya? Dari tadi saya sudah sekitar lima menit di sini, tetapi hanya ada Ibu," tanyanya dengan heran.
Ibu penjual itu tersenyum tipis.
"Memang... di sini jarang ada orang."
"Loh, kenapa, Bu?" tanya Aulia semakin bingung.
Namun sebelum ibu itu menjawab, perhatian Aulia tertuju pada sesuatu di samping lapak.
Ia melihat sesajen yang diletakkan di pinggir dagangan ibu tersebut.
Aulia langsung teringat pada semua kejadian yang dialaminya.
Rasa takut kembali muncul.
Tanpa berpikir panjang, Aulia segera meninggalkan tempat itu.
Sesampainya di rumah, Aulia merasa sangat lapar karena sejak pagi ia belum makan.
Ia membuka makanan yang tadi dibelinya.
Namun baru saja tutupnya dibuka...
Bau busuk langsung menyengat hidungnya.
"Uh... bau apa ini?" ucap Aulia.
Ia memperhatikan makanan tersebut.
Matanya terbelalak.
Di dalam makanan itu terdapat banyak belatung.
"Apa?!"
Aulia mundur beberapa langkah.
"Loh... kok bisa? Bukankah aku baru saja membelinya?"
Makanan itu tampak seperti sudah membusuk selama berhari-hari.
Aulia segera membuangnya.
Belum sempat ia menenangkan diri, tiba-tiba...
Tok... tok... tok...
Seseorang mengetuk pintu.
Aulia terdiam.
"Siapa lagi ini?" ucapnya dengan nada ketakutan.
Ketukan terdengar lagi.
Aulia berjalan menuju pintu dengan sangat hati-hati.
Tangannya perlahan meraih gagang pintu.
Ia membukanya.
Ternyata tetangga sebelah rumah berdiri di depan pintu.
"Ini, Nak. Ibu punya sedikit makanan. Barangkali kamu belum sarapan," kata tetangganya.
"Oh, iya, Bu. Terima kasih," jawab Aulia.
Namun, tetangganya tiba-tiba memperhatikan kondisi rumah Aulia.
"Kenapa rumahmu berantakan begini?"
Aulia terdiam sejenak.
"Iya, Bu... semalam saya mendengar banyak suara dan ketukan. Saya juga melihat beberapa hal aneh."
Tetangganya mengerutkan kening.
"Suara? Ketukan?"
"Iya, Bu."
Tetangganya menggelengkan kepala.
"Ah, mana mungkin?"
Aulia menatapnya bingung.
"Kenapa, Bu?"
"Ibu sudah tinggal di sini selama setahun. Selama itu, tidak pernah ada kejadian seperti yang kamu ceritakan."
Aulia terdiam.
Wajahnya perlahan berubah pucat.
"Setahun...?"
"Iya. Tidak ada apa-apa di rumahmu selama ini."
Aulia tidak mampu menjawab.
Ia hanya menatap kosong ke arah rumahnya.
Untuk sesaat, pikirannya kembali teringat pada semua kejadian yang dialaminya.
Sosok tanpa kepala.
Sosok putih.
Ketukan pintu.
Bayangan yang melintas.
Dan bekas cakaran di kamarnya.
Apakah semuanya benar-benar terjadi?
Ataukah semua itu hanya ketakutan yang tumbuh di dalam pikirannya setelah terlalu sering menonton film horor?
Aulia tidak tahu.
Namun sejak saat itu, ia berusaha mengubah kebiasaannya.
Ia mulai mengurangi menonton film horor dan tidak lagi membiarkan rasa takut menguasai pikirannya.
Hari demi hari berlalu.
Minggu berganti bulan.
Bulan berganti tahun.
Satu tahun kemudian...
Semua kejadian aneh yang pernah dialami Aulia akhirnya menghilang.
Tidak ada lagi sosok misterius.
Tidak ada lagi ketukan di tengah malam.
Tidak ada lagi
bayangan tanpa kepala.
Tidak ada lagi bekas cakaran.
Aulia akhirnya dapat hidup dengan tenang dan tenteram.
Ia pun menyadari satu hal penting:
Ketakutan terkadang bukan berasal dari apa yang ada di sekitar kita, melainkan dari apa yang kita tanamkan di dalam pikiran kita sendiri.
Sejak saat itu, Aulia tidak lagi membiarkan film yang ia tonton menguasai pikirannya.
Ia belajar untuk lebih bijak memilih tontonan dan tidak berlebihan dalam menikmati sesuatu yang dapat memengaruhi pikirannya.
Karena terkadang, sesuatu yang kita takuti belum tentu benar-benar ada.
Bisa jadi...
yang paling menakutkan bukanlah hantunya, melainkan pikiran kita sendiri.
TAMAT
Tulisan Lainnya
Desa Pamali
DESA PAMALI Karya: M. Aji Pratama (Kelas 8) Di tengah hutan yang lebat, jauh dari hiruk-pikuk kota, berdirilah sebuah desa terpencil yang dikenal dengan nama Desa Pamali. Desa itu ter
Rumah Masa Kecilku yang Ditinggalkan
Penulis: Ahmad Syauqy Rahman dan Andhika Syande Pratama Pada suatu hari, hiduplah sepasang suami istri yang sedang berbahagia karena baru saja dikaruniai seorang anak laki-laki. Bayi i
Saat Malam Hari Raya Idul Fitri
Karya: Muhammad Haudzil Ulum – Kelas 7B Pada suatu hari di bulan Ramadan, ada seorang anak bernama Rayyan. Ia dikenal sebagai anak yang ceria dan suka bermain bersama teman-teman
Legenda Batu Gantung
Karya: Ahmad Syauqy Rahman - Kelas 7A Pada zaman dahulu kala, di sebuah desa kecil di tepi Danau Toba, hiduplah sepasang suami istri sederhana. Mereka memiliki seorang anak perempuan b
Gunung Keramat
Karya: M. Azzam Ghazy - Kelas: 7A Akhir-akhir ini media sosial ramai membicarakan sebuah gunung yang katanya keramat. Banyak warga desa yang percaya, tetapi ada juga ya
Cinta Seangkatan
Karya: Gholib Munandar - Kelas 7A Ini adalah cerita ketika aku masih duduk di kelas 3 SD. Saat itu, aku sering mengobrol dengan teman-teman perempuan sekelasku. Namun, ada satu orang y
Menjelang Idul Adha
Karya: Muhammad Sudrajat Ibadillah - Kelas 7B Suatu sore, Bintang bermain bersama teman-temannya. Mereka berjalan-jalan sambil melihat hewan-hewan yang akan dikurbankan, seperti sapi d
MTs Darun Najah Terbitkan Buku Kedua “Jejak Pena Anugerah”
Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh MTs Darun Najah Petahunan Sumbersuko Lumajang dalam bidang literasi. Setelah sebelumnya menerbitkan karya antologi puisi, kini kembali hadi
MTs Darun Najah Terbitkan Buku Antologi Puisi “Sajak Rindu Santri” Karya Siswa-siswi
MTs Darun Najah kembali menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan budaya literasi dengan menerbitkan sebuah buku antologi puisi berjudul Sajak Rindu Santri. Buku ini merupakan
Ibu, Buku Kehidupanku
Karya: Maridabul Khumairoh – Kelas 8D Ibu, engkau adalah buku segala ilmu, tempatku bertanya dan tempat semua masalahku bermuara. Engkau selalu tahu bagaiman